Workshop Menulis: Self Healing BKI IAIN Tulungagung

wp-1494395888415 (1)

Selasa, 9 Mei 2017 Himpunan Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Tulungagung mengadakan Workshop Menulis yang bertemakan “Self Healing”. Acara ini diharapkan akan menumbuhkan semangat menulis bagi mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Tulungagung pada umumnya dan Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam khususnya.

Pada Workshop kali ini pematerinya adalah dosen Institut Agama Islam Negeri Tulungagung, beliau juga seorang penulis yang sudah handal. Beliau adalah Dr, Ngainun Naim M.H.I. Beliau lahir di Tulungagung, 19 Juli 1975. Beliau beralamatkan di Krajan Rt:11 Rw: 04 Parakan Trenggalek. Beliau menempuh S-1 di STAIN Tulungangung (1998), S-2 di UNISMA Malang (2002), dan beliau menempuh S-3 di UIN Sunan Kalijogo Yogyakarta (2011).

Banyak karya yang beliau hasilkan diantaranya yaitu Proses Kreatif Penulisan Akademik (2007), The Power of Writing (2015), Self Development (2015), dan  The Power of Reading (2004). Beliau juga memiliki beberapa pengalaman organisasi diantaranya pernah mengikuti Senat Mahasiswa (1997), dan Lakpesdam NU. Beliau juga mempunyai motto yang selalu di pegang teguh. Motto beliau yaitu “Menulis Untuk Memberdayakan Diri”

Mengingat tema materi kita kali ini yaitu Self Healing.

Apa itu Self Healing?

“MENULIS ITU MENYENANGKAN”.

Apa benar menulis itu menyenangkan? Kenapa menulis dapat disebut menyenangkan? Bukankah menulis akan membuat kita jenuh dan bosan?

Jika menulis itu adalah bagian dari hobi kita maka menulis itu tidak membosankan, kita tidak merasa tertekan dalam menjalankan hobi tersebut. Katakanlah “Ini adalah sarana saya untuk belajar, bukan sarana yang membuat saya tertekan.” Menulis itu menyenangkan jika kita mengetahui cara-cara menulis yang baik tentunya.

Fatima Mernissi mengatakan bahwa

“Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaatnya yang luar biasa. Dari saat Anda bangun, menulis meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantung di bawah mata Anda akan lenyap dan kulit Anda akan segar kembali”.

Janganlah kita takut untuk mencoba. Jika kalian takut maka disitulah titik tertakhir anda. Seperti halnya kita takut mengendarai sepeda motor. Jika kita tidak berani untuk mencoba maka selamanya kita tidak akan bisa. Begitu juga dengan menulis, jika kita tidak mau mencoba maka selamanya kita tidak akan bisa.

Menulis itu membutuhkan adanya komitmen. Luangkan waktu untuk menulis mulai dari sekarang, namun ingat jika kita ingin menulis jangan lewatkan waktu untuk membaca. Tanpa membaca kita tidak akan dapat menulis. Sumber informasi yang akan kita tulis itu berasal dari hasil yang kita baca.

“MENULIS DAN MEMBACA”,

Keduanya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya bagaikan “Mata Uang Dua Sisi”. Menulis itu mendorong proses integrasi informasi. Menulis juga  dapat membantu memecahkan masalah-masalah yang rumit. Menulislah kapan pun anda ingin menulis. Jangan menghiraukan orang disekeliling anda, karena jika anda tetap memperhatikan orang diseliling anda maka terhambatlah proses menulis tersebut. Menulis itu tidak ditentukan dari lingkungan, namun menulis itu berasal dari diri kita sendiri.

Menulis sendiri memiliki banyak manfaat, diantaranya yaitu, menulis dapat menjernihkan pikiran, menulis dapat mengatasi trauma, menulis dapat membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, menulis dapat membantu memecahkan masalah, menulis dapat membantu kita ketika kita terpaksa harus menulis, dan lain sebagainya.

Ketika menulis kita bertanya-tanya, kenapa tulisan saya tidak sebagus tulisan Si-A?

Kenapa saya sulit untuk melanjutkan tulisan saya?

Kenapa saya bingung untuk menyusun kata-kata?

Menulis itu membutuhkan proses. Menulis itu tidak langsung seketika jadi. Tahap menulis yang pertama yaitu adanya persiapan terlenih dahulu. Kedua, proses penulisan. Dalam proses menulis jangan fikirkan hal-hal negative dalam oroses menulis. Misalnya:

Apakah tulisan saya ini benar atau salah?

Apakah tulisan saya sudah sesuai dengan ejaan Bahasa Indonesia?

Apakah tulisan saya patut di terbitka atau tidak?

Menulis itu bisa diawali dari hal yang paling kita ketahui. Misalnya mengenai suatu kejadian yang menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Menulis itu dilakukan secara ngemil, artinya janganlah kita terus-terusan menulis sehari benuh. Namun gunakan waktu untuk menulis itu sedikit demi sedikit. Ungkapkan apa yang dalam fikiran kita. Karena sesuatu yang dikerjakan secara langsung jadi itu hasilnya kurang bagus. Namun Gunakanlah waktu menulis itu sedikit demi sedikit secara rutin dan konsisten.

Satu kalimat dari Pak Ngainun Naim yang membuat saya bersemangat yaitu “JIKA ANDA BISA MENULIS MAKA ANDA MAKHLUK LANGKA”

Oleh: Vir