Diskusi BKI: Retorika Filsafat Cinta ala Kahlil Gibran

Proses Diskusi

Proses Diskusi

Adalah ketika kamu menitikkan air mata

dan masih peduli terhadapnya..

Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu masih

menunggunya dengan setia..

Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain

dan kamu masih bisa tersenyum sembari berkata Aku

turut berbahagia untukmu

(Kahlil Gibran)

Tulungagung (20/3), pertama kali forum diskusi mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) digelar pada malam hari. Forum Diskusi Mahasiswa FUAD (FORMAD) menarik minat mahasiswa, khususnya prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI). Diskusi bertemakan “Mengupas Filsafat Cinta Kahlil Gibran” yang di pantik langsung oleh Agus Novel Mukholis, selaku konselor Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) sekaligus pendiri komunitas Lentera.

Formad dihadiri oleh semester dua dan empat mahasiswa BKI. Selain itu, Formad yang di selenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) BKI juga dihadiri beberapa mahasiswa Aqidah Filsafat Islam (AFI). Novel menyatakan bahwa untuk menjadi konselor harus selesai dengan urusan sendiri, “Bagaimana kita bisa menyelesaikan masalah orang lain jika kita sendiri masih masih bermasalah,” ujarnya.

Novel memaparkan sekilas biografi Gibran. Kala itu pada masa kerajaan Turki Ustmani bertindak semena-mena.  Gibran dan keluarganya pindah ke Amerika Serikat. Sebelum pindah di Amerika Serikat nama Gibran adalah  Khalil Jibran. Gibran adalah seorang penyair, sastrawan sekaligus pujangga.

Diusia 18 tahun, Gibran mulai jatuh cinta kepada wanita. Namun nahas, Gibran merasakan patah hati berkali-kali. Gibran semakin terpuruk ketika ditinggal mati oleh adik, ibu dan kakaknya.

Gibran bisa merasakan penderitaan perempuan. “Karena keperibadian Gibran ini introvert, inferior. Mungkin juga berpengaruh, fokus dan konsentrasinya lebih ke pemikiran dan karya-karyanya. itu mungkin yang membuat ia takut menjalin hubungan. Selama ini Gibran memilih mencintai dalam diam,” ungkap Novel.

Gibran berfilsafat dan menyimpulkan bahwa cinta yang paling tulus berasal dari Tuhan. Mustofa selaku anggota Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) menganggap orang tua adalah manusia yang paling tulus mencintai dirinya. Namun, berbeda dengan ungkapan Novel, ia mengatakan bahwa, “Orang tua masih meminta imbalan kepada kita, sedangkan Tuhan tidak, cinta Tuhanlah yang paling tulus.”

Novel mengagumi karya-karya Gibran, salah satunya adalah“The Prophet”. Buku tersebut menceritakan rahasia terbentang antara kehidupan dan kematian. Tokoh yang terdapat di buku tersebut bernama Al-Mustofa.

Salah satu peserta Formad menyatakan bahwa Gibran sangat mengagumi dan memahami seorang wanita. Gibran berkarya melalui media sastra. Gibran memiliki jiwa feminis. “Mungkin feminisnya Gibran bukan akibat wanita yang termarjinalkan. Tetapi perempuan tersebut termarjinalkan oleh perempuan golongan lain.,” ujar salah satu peserta Formad.

Isna selaku peserta, mengaku menyayangkan Formad yang dilaksanakan pada malam hari. Sebab, tema yang diangkat memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga waktu yang tersedia tidak cukup untuk mengupas tuntas tema Formad. Namun hal tersebut tidak menjadi kendala bagi mahasiswa Bimbingan Konseling Islam (BKI).

oleh: Minkhatul Choiriyah