MENYELAMI KEPRIBADIAN MELALUI KONSELING REBT BERSAMA DR RAMLI MA

Webp.net-compress-image(7)

Tulungagung (1/12) Jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) kembali menghadirkan narasumber terkemuka, Dr. Ramli,M.A dalam acara Workshop Konseling Emotive Behavior Therapy (REBT). Workshop kali ini diperuntukkan bagi mahasiswa BKI dari semester satu sampai tujuh.  Pendekatan konseling yang dikemukakan oleh albert ellis ini merupakan gabungan konseling humanistis, filosofis dan behavior. Disamping itu, pendekatan tersebut dipengaruhi oleh adler yang berpandangan bahwa reaksi emosi dan gaya hidup manusia berkaitan dengan keyakinan dasar karena itu bersifat kognitif.

Pada hakikatnya manusia merupakan makhluk yang memiliki potensi berpikir rasional dan irrasional. Makhluk yang memiliki kecenderungan mengembangkan sekaligus menghambat diri yang apabila dirubah proses kognitif dan perilakunya maka disebut sebagai salah satu peningkatan behavioral. Ramli menyatakan bahwa perilaku manusia itu tergantung apa yang dirasakan dan tergantung pada apa yang dipikirkan. “Jika pikiran tersebut positif maka tindakan dan perilakunya pun akan lurus. Namun sebaliknya jika negatif maka akan negatif pula.” Ujarnya.

Setiap orang normal akan berkembang berdasarkan keinginan, harapan dan pilihannya sesuai dengan tahap-tahap perkembangan secara regular. Perilaku manusia merupakan akibat dari sejumlah pandangan yang tidak rasional, yang didapat manusia dari proses perkembangannya. Pandangan yang tidak rasional tersebut terus-menerus dipropagandakan terhadap dirinya melalui kalimat atau kata-kata yang merusak dirinya. Ada tiga keyakinan irasional utama, yaitu tuntutan yang berlebihan terhadap diri-sendiri, terhadap orang lain dan terhadap lingkungan.

Penentangan pikiran irrasional bisa ditentang dengan tiga teknik, yaitu teknik kognitif, emotif, dan behavioral. Teknik kognitif dengan mengubah cara proses berpikirnya melalui diskusi, bacaan terarah, penataan kognitif, dll. Sedangkan teknik emotif dengan merubah emosinya melalui pembayangan masa depan, latihan penangana rasa malu, permainan peran, dll. dan yang terakhir yakni teknik behavioral dengan merubah perilakunya yakni melalui relaksasi, pelatihan keterampilan, penguatan, pemberian model, dll.

Acara yang bertempat di Aula Saifuddin Zuhri lantai 5 berjalan dengan khidmat, para peserta terlihat antusias mengikuti penyampaian materi hingga selesai. Terlebih dipimpin moderator yang sangat hebat pula, Febri Tri Cahyono,M.Pd selaku dosen BKI IAIN Tulungagung.

Ramli sangat menekankan peserta untuk menghindari kata seandainya. Sebab, dengan begitu berarti seseorang telah berprasangka. “Kata-kata seandainya itu dilarang agama, kita perlu menjauhi prasangka, karena prasangka itu irasional belief. Pandanglah dunia ini sewajarnya saja, pikiran negative yang ada pada diri kita maka lawanlah dengan pernyataan-pernyataan yang membuat anda bahagia. Ini bukan untuk klien tapi juga untuk diri kita sendiri. Jangan seperti lilin, ia menerangi sekitarnya sedangkan dirinya sendiri terbakar. Bki is for you and also for me” Ucap Ramli.

Fety Puspita Sari selaku mahasiswa BKI semester 3 mengemukakan kegembiraanya mengikuti workshop tersebut, menurutnya pengambilan tema REBT sangat bagus, bermanfaat bagi jurusan. “Apalagi pematerinya itu dosennya para dosen, sudah sangat ahli dibidangnya.” Ujar Fety.

Sedangkan Rofiq Ma’af selaku peserta workshop REBT semester 7 menambahkan harapannya untuk workshop jurusan kedepan. “kedepannya bisa menyuguhkan materi-materi yang lebih menarik, materi yang disuguhkan bisa diterapkan secara langsung, dan tidak lepas dari jurusan BKI. Untuk selanjutnya bisa diberi praktek langsung ditempat usai teori.”