Catatan Aktivis Ekonomi Islam (KSEI MUAMALAH)

IMG-20180517-WA0045IMG-20180517-WA0044

Tulungagung 03 Mei 2018

Hari berganti lagi, mentari mulai menampakkan jati dirinya, embun mulai beranjak pergi. Masih agak dingin, aku mengenakan jaket bewarna hijau berjalan menuju terminal. Duduk di kursi antrian melihat hulu-lalang orang yang gaduh. Tangan kanan, kiri, punggung penuh bawaan. Ada yang membawa tas, kardus, karung bahkan ayam yang sempat berkokok di pagi hari itu. Aku menunggu seseorang, iya kami akan berangkat bersama untuk menacari ilmu di jember. Suara bising knalpot bus beserta hembusan asap pekat yang beterbangan tak sanggup dihindari. Seorang petugas menyapaku.”mas mau berangkat”. Aku menengoknya” iya pak, masih nunggu teman”.
Aku melihat bus yang masih sepi, hanya ada dua orang dan pak supir yang lagi bersiap untuk berangkat. Datanglah satu temanku, namanya Amalia jurusan ekonomi syari’ah, dia bergegas masuk ke dalam bus. Kurang tiga anak dari kami. Bus mulai berjalan, aku menjadi bingung jika mereka tertinggal. Tapi akhirnya bus berhenti di depan SPBU. Aku melihat jendela, mereka berjalan menuju bus dan akhirnya kami berkumpul. Rischy, Nurul dan Khilya, meski mereka ber empat kakak tingkatku, nyatanya aku kecil sendiri diantara mereka.
Rasa kantuk mulai mendekat, aku duduk dibelakang sedangkan mereka di depan. Aku tak tau mereka sedang tidur atau apa. Aku tetap fokus melihat jalanan melalui jendela. Menahan rasa kantuk hampir menutup mata, aku mendengar suara petikan gitar yang merdu. Pandanganku beralih, dua orang pengamen dengan gitar dan satunya berpakain lurik khas jawa. Aku takjub ketika pengamen yang berambut gondrong terikat itu mengucapkan syair demi syair, diiringi gitar yang merdu. Meski suaranya agak serak namun kata demi kata sangat menancap dipikiranku. Aku tak lagi menyebut mereka pengamen, namun musisi dan penyair jalanan.
* * *

Jember, 04 Mei 2018…
Hari berganti lagi. Kami sampai kemarin malam dan sempat mampir sebentar di Universitas Jember. Dan pagi ini atas izin Allah SWT, kami dikumpulkan oleh Forum Silahturahmi Studi Ekonomi Islam (FoSSEI). Disini kami belajar, mencari ilmu, pengalaman di acara FoSSEI Leadership Camp yang bertempat di secaba rindam V/Brawijaya Jember. Berbagai kampus se-Regional Jawa Timur dan kami mewakili IAIN Tulungagung. Dan uniknya disini ada dua suku yang saling mendominasi yaitu jawa dan Madura. Namun perbedaan itulah yang membuat kami semakin ingin belajar.
Acara pembukaan mengawali kegiatan ini, putih dan hitam yang menyelimuti tubuh kami dengan rapi. Kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars FoSSEI dengan lantang. Setelah itu kami bergegas menaruh barang di tenda, sedikit mengingatkanku saat dulu ikut pramuka. Banyak kegiatan disana, terutama untuk mengasah intelektual melalui materi. Dengan materi beragam seperti ekonomi makro,karateristik ruh dakwah FoSSEI, leadership ala Rasulullah, dll. Karena kami terpilih menjadi calon aktivis ekonomi islam atau ekonom rabbani. Memang sebagian besar materi adalah tentang ekonomi islam. Sedangakan kami berempat dari jurusan hukum. Agak bersangkutan karena jurusan kita hukum ekonomi syari’ah. Namun niat kami tidak pernah sedikitpun goyah.
* * *
Jember, 05 Mei 2018….
Beberapa materi sudah tersampaikan. Perlahan ilmu dan sikap leadership kami mulai terbentuk, meski kami masih banyak mengecewakan panitia. Karena kami selalu belajar dari kesalahan. Disini banyak kegiatan positif yang harus lakukan, seperti tahajud. Berat ketika seharian kegiatan dan pada dini hari kami harus bangun untuk sholat tahajud. Namun, tiada kemenangan tanpa pengorbanan. Kami tetap menjalankannya setelah itu membaca Al-quran sampai shubuh. Setalah sholat shubuh murajahah dan hafalan ayat tentang ekonomi. Tapi aku yakin itu semua pasti ada manfaatnya kelak.
Metahari mulai lengser kebarat dari garis lurusnya, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi tugas membuat video singkat bertemakan berani halal. Sekaligus kampanye nasional FoSSEI 2018. Kami berdikusi dengan berbagai logat, dialek yang berbeda. Teman sekelompoku beragam, dari Madura, situbondo, purwokerto, malang sampai Lombok. Sudah jelas perbedaan inilah yang harus kita jadikan satu dalam kebersamaan. Semarak para ekonom muda menggetarkan tempat itu, satu persatu kelompok dengan yel-yel masing-masing menggemakan suara di ruang itu. Hingga tenggelamnya mentari menjadi tanda usailah keramaian itu.
* * *

Jember, 06 Mei 2018…
Malam bertabur bintang dan rembulan tersenyum menghantarkan kami untuk rehat setelah kegiatan seharian. Aku mendengar teriakan seseorang “ wooi cepat bangun”, aku bergegas bersama teman lain. Satu persatu kami keluar tenda, ada yang belum memakai sepatu, ada yang id card ketinggalan dan ada yang masih memakai sarung. Kami dikumpulkan di lapangan. Aku melirik jam tangan menunjukan pukul 01:30, padahal kemarin pukul 3 waktunya tahajud.
Malam itu membuat kami sadar. Tetesan air mata membasahi lapangan. Kami mendapat hukuman atas semua kesalahan kami. Tapi, disitu ukhuwah yang selama ini menjadi slogan penting FoSSEI semakin kuat. Ihkwan dan ahwat dibedakan, Kami bergandeng tangan dan saling merangkul dengan kuat. Mempertahankan rasa saudara yang ingin dibongkar oleh panitia. Mas hengky selaku koordinator FoSSEI Jatim pernah berpesan “ekonomi rabbani itu tempatnya bukan di akal, melainkan dihati”. Api tersulut. Bendera FoSSEI berkibar seketika air mata menjadi hangat dan suara tangis mulai mengeras. Mars FoSSEI dilantunkan kami saling berjabat tangan antara panitia dan peserta. Setelah kejadian itu kami disadarkan dan adzan subuh menghentikan malam runungan pada hari itu.
Pagi yang cerah dan hari terakhir acara ini. Kegiatan akhir yang kunantikan yaitu outbond. Di awali dengan senam bersama dilapangan dan satu persatu kelompok mulai berjalan per pos masing-masing. Kelompokku berangkat pertama. Banyak game, pertanyaan ketika mampir ditiap pos. sangat bermakna dan menyadarkan. Hingga pos terakhir yang paling kusuka yaitu menelusuri wahana yang digunakan prajurit latihan. Mulai dari merayap, meloncat, naik ketembok dan terjun kebawah dan banyak lagi rintangannya. Satu lagi kekompakan dan kebersamaan berperan penting. Setelah semua terlalui kami selesai dan beranjak membersihkan diri.
Tepat mentari condong ke barat, akhir dari acara itu. Ditutup dengan upacara menutupan secara formal dan pembacaan kelompok terkompak dan sesi foto-foto serta. Tak lupa aku juga ikut foto bersama teman-teman dari daerah lain. Disini kami mulai mengenal, belajar dari bahasa yang berbeda dan kebiasaan kampus masing-masing. Langit mulai menyebarkan warna jingga dan senja menghantarkan kami kembali ke Tulunggung. Meninggalkan beberapa cerita yang telah terukir dan tak sanggup terlupakan. Mentari telah usai dan kami berlima beranjak dari tanah ini kembali pada tanah perjuangan kami.

-The End-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>