htn2 htn3 htn5Pada hari minggu tanggal 20 Mei, Pukul 09.00 Mahasiwa HTN Fakultas Syariah IAIN Tulungagung melaksanakan sosialisasi Pilkad serentak 2018. Sosialisasi kali ini berlokasi di Pondok Pesantren Sirojut Tholibin, Srigading, Plosokandang, Tulungagung. Dalam kegiatan sosialisasi Pilkada ini pihak Pondok Pesantren sangat responsif, terbukti dengan cepatnya respon yang diberikan oleh pengasuh Pondok Pesantren yang langsung menyetujui  dan memberikan waktu untuk sosialisasi.

            Tim kami tiba dilokasi pada pukul 08.45 WIB, kemudian kami langsung menuju serambi masjid dan seorang santriwati menyambut kami dengan ramah. Sambil menunggu para santriwati berkumpul diserambi masjid kami berbincang-bincang santai. Sampai pukul 09.00 kami memulai kegiatan sosialisasi pilkada. Menurut informasi dari Mbak Ana (Ketua pondok), bahwasanya jumlah pemilih pemula di pondok pesantren Sirojut Tholibin, Srigading, Plosokandang sekitar 120 santriwati.

            Meskipun kegiatan sosialisasi ini diadakan pada bulan Ramadhan, nyatanya kegiatan yang sedang puasa tidak sedikitpun mengurangi antusiasme partisipan. Dalam menyampaikan materi sosialisasi, tim kami tidak mengalami kendala, karena respon positif dari santriwati membuat kegiatan sosialisasi ini berjalan lancar, bahkan tidak lupa kami saling melemparkan guyonan dan partisipan yang juga berstatus sebagai mahasiswi yang berjiwa muda dan kritis, sehingga penyampaian dari tim kami ada feedback dan tercipta pembicaraan dua arah antara tim sosialisasi dan partisipan.

            Pada sesi tanya jawab, dua orang partisipan melemparkan pertanyaan kepada tim kami. Pertanyaan pertama diberikan oleh Siti Roudhotul Jannah, pertanyaannya adalah mengenai  aplikasi KPU Tulungagung dan bagaimana menyikapi petugas PPDP ketika mejalankan tugasnya tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditentukan. Dan pertanyaan kedua oleh Mbak Nurmas, yang menanyakan terkait yaitu status perantauan (Mahasiswa yang ngekos dan mondok) masih boleh memberikan hak suarannya. Dari semua pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan baik oleh tim.

            Kegiatan sosialisasi diakhiri dengan pemberian doorprize dari tim sosialisasi untuk santriwati yang berani maju kedepan untuk memberikan tanggapan terkait kegiatan sosialisasi ini. Dan lagi-lagi mbak Ana ketua pondok yang bersedia untuk memberikan tanggapan terkait kegiatan sosialisasi ini. Tidak lupa sebagai penyemangat tim kami memberikan yel-yel pilkada yaitu, pilkada-sukses, Tulungagung-Damai, Sing Nyoblos-Joss. Antusiasme dan semangat mereka terlihat saat mulai menyuarakan yel-yel yang diberikan oleh tim sosialisasi. (WAQ/IA/ R A)

          index13 index2 index1Bertepatan, 1 Juni 2018 sekaligus sebagai hari lahirnya Pancasila, Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara IAIN Tulungagung menggelar acara Buka Bersama dan Diskusi dengan Tema Peran Mahasiswa HTN dalam menangani Radikalisme di kampus. Acara ini dihadiri oleh Bapak Dr. Darin Alif Muallifin, S.H., M.Hum. selaku Wakil Dekan 3, dan juga dihadiri oleh ibu dosen Ashima Faidati, M.Sy sebagai pemateri.

         Isu radikalisme akhir-akhir ini menyita banyak perhatian warga masyarakat. Puncaknya adalah peristiwa bom beruntun di daerah Surabaya dimana diawali dengan diledakkannya bom bunuh diri oleh satu keluarga di 3 Gereja di Surabaya. Paham radikalisme benar-benar sudah menyebar dengan luas, dan banyak dikatakan bahwa paham ini berasal dari kelompok ajaran agama Islam. Kalau kita mau telusuri sebentar, sebenarnya Islam memiliki 3 kelompok, yaitu kelompok Islam Liberal, Islam Moderat, dan Islam Radikalisme.

          Islam Liberal, merupakan suatu kelompok dimana umatnya menginginkan kebebasan, bahkan bisa sampai ajaran-ajaran atau paham-paham mereka jauh dari nash-nash yang sesungguhnya. Sebaliknya, ada Islam Radikal atau bisa juga dikatakan Islam Fundamental. Kelompok ini lebih mengacu pada tekstual tanpa memperdulikan kontekstual. Dan yang ketiga, adalah Islam Moderat. Kelompok ini bisa dikatakan merupakan kelompok tengah-tengah, antara kelompok Liberal dan kelompok Radikal atau Fundamental.

         Paham radikalisme, dewasa ini mempengaruhi banyak pihak. Mereka menyebarkan paham-paham mereka melalui banyak media, yang paling marak adalah melalui media sosial. Target utama kelompok ini adalah para siswa-siswa, bahkan ada yang dari kecil sudah dicekoki paham-paham radikal. Lalu masuk ke tahap kampus kelompok ini menargetkan mahasiswa dan dosen.

Lalu bagaimana bisa paham radikalisme masuk ke tahap mahasiswa? Sebenarnya, sasaran dari kelompok ini bukan semua mahasiswa. Mereka mencari target pada mahasiswa-mahasiswa yang memliki keilmuan keagamaan yang rendah. Tahap mahasiswa merupakan tahap dimana mencari jati diri, dimana ditahap ini mereka haus ilmu dan pengetahuan.Dari rasa haus inilah, dengan basic keilmuan agama yang masih kurang, mahasiswa-mahasiswa seperti ini menjadi sasaran empuk bagi kelompok-kelompok radikalisme untuk dicekoki paham mereka. Dan akan lebih mudah dipengaruhi karena rasa penasarannya. Ujar Ibu Ashima.

 Lalu bagaimana kita menangani radikalisme?

        Kita harus memiliki basic keilmuan agama yang lebih, karena jika keilmuan agama yg kurang akan lebih mudah dipengaruhi atau disusupi oleh paham-paham radikalisme. Kedua, kita harus paham dimana kita tinggal. Kita harus mempelajari sederet sejarahnya, pelajari nilai-nilai Pancasila. Dengan mempelajari Pancasila secara seksama, ini merupakan wujud dari sikap kita melakukan pembatasan terhadap menyebarnya benih-benih paham radikalisme. Kita bisa melakukan kajian-kajian dengan catatan kajian tersebut tidak mengandung unsur-unsur provokatif tentang paham-paham radikalisme, jelas Ibu Ashima. Menurut beliau, Islam di Indonesia merupakan Islam Rahmatan lil Alamin, dimana Islam disini melindungi seluruh lapisan masyarakat dan menegakkan keadilan serta kesejahteraan.

Selanjutnya menurut Bapak Dr. Darin, hal yang bisa dilakukan lagi untuk menangkal paham radikalisme adalah dengan konsep silaturrahmi yang harus dikembangkan oleh para mahasiswa terhadap mahasiswa yang lain.   Jangan dikonfrontasi, ajaklah dia, peluk dengan mesra. Dia adalah keluargamu. Dia hanya sedang tersesat pemikirannya. tutup beliau. (Nbl/bt)

        Kali Ini Lokasi kegiatan sosialisasi diadakan di Pondok Pesantren Madinul Ulum Campurdarat. Tepatnya di Jalan Raya Popoh No. 47, Desa Campurarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Pengelola Pondok Pesantren menghendaki kegiatan sosialisasi diadakan di masjid pondok pesantren, dengan alasan lebih bisa menampung banyak partisipan dibandingkan di ruang kelas.11 22 222

            Tim kami tiba dilokasi pada pukul 18.45 WIB, kemudian kami langsung menuju kantor pengelola pondok pesantren, kemudian kami dipersilahkan untuk menunggu di ruang tamu kantor oleh salah seorang pengasuh pondok pesantren yang bernama Pak Salim. Sekitar pukul 19.15 WIB santriwan-santriwati pondok menjalankan sholat Isya’ berjamaah di masjid. Setelah menyelesaikan sholat berjamaah, Pak Salim kembali menemui kami dan memberikan info bahwasanya santriwan-santriwati sudah siap untuk mendapatkan sosialisasi dari tim kami.

            Menurut informasi dari Pak Salim, bahwasanya jumlah pemilih pemula di pondok pesantren Madinul Ulum cukup banyak. Ketika tim kami sampai di masjid, kami baru tahu bahwa pilihan Pak Salim yang memilih masjid sebagai lokasi sosialisasi adalah hal yang tepat. Hal ini dikarenakan jumlah santriwan-santriwati yang banyak dan masjid yang luas membuat kami nyaman untuk melakukan sosialisasi.

            Tim kami dalam menyampaikan materi sosialisasi tidak mengalami kendala yang berarti, karena respon positif dari santriwan-santriwati membuat rasa gugup yang kami alami menguap begitu saja. Selain itu pemahaman tentang pilkada rupanya cukup dimiliki oleh para santriwan-santriwati, sehingga penyampaian dari tim kami ada feedback dan tercipta pembicaraan dua arah antara tim sosialisasi dan partisipan.

            Santriwan ternyata cukup kritis, mereka tidak segan-segan untuk bertanya jika mereka merasa ingin tahu terhadap sesuatu yang berkaitan dengan pilkada. Pertanyaan datang dari santriwan yang mengaku bernama Toyip dan Wahyu. Mereka bertanya mengenai mengapa diadakan pilkada dan bagaimana hukum dan cara menanggapi money politik. Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian ditanggapi oleh tim kami. Diskusi mengenai pertanyaan-pertanyaan ini berjalan baik dengan sesekali terlontar guyonan dari para santriwan maupun dari tim sosialisasi.

            Selain itu, santriwan-santriwati pondok pesantren Madinul Ulum tergolong modern, karena sebagian besar dari mereka telah mengenal internet dan smartphone. Adanya aplikasi KPU Tulungagung ternyata sangat membantu kegiatan sosialisasi kami. Karena secara langsung kami dapat mendeklarasikan bagaimana penggunaan dari aplikasi ini. Mulai dari untuk mengetahui profil anggota komisioner, berita ter-update pilkada, profil paslon, pengecekan daftar pemilih, kontak KPU, tahapan pilkada dan sebagainya. Intinya adalah dengan adanya aplikasi KPU Tulungagung ini secara cepat dan mudah dapat diakses oleh masyarakat, dan hal ini sangat tepat dengan partisipan yang hidup di zaman milenial ini.

            Kegiatan sosialisasi diakhiri dengan pemberian doorprize dari tim sosialisasi untuk santriwan-santriwati yang dapat menjawab pertanyaan dari tim kami. Dan penerima doorprize adalah santriwan asal Campurdarat yang berhasil menjawab pertanyaan dari tim sosialisasi dengan menjawab dan menjelaskan pengertian dari azas luberjudil.

            Tidak lupa sebagai penyemangat sekaligus sebagai penutup dari acara sosialisasi tim kami memberikan yel-yel pilkada yaitu, pilkada-sukses, Tulungagung-Damai, Sing Nyoblos-Joss. Antusiasme dan semangat mereka terlihat saat mulai menyuarakan yel-yel yang diberikan oleh tim sosialisasi. (Tim sosialisasi)

 

 

manPadman3a hari Sabtu 21 April 2018, mahasiswa HTN IAIN Tulungagung melaksanakan sosialisasi PILKADA Serentak 2018 dengan sasaran pemilih pemula. Sosialisasi ini diadakan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran para siswa-siswi Madrasah Aliyah dan Pondok Pesantren di kabupaten Tulungagung untuk ikut serta dalam pesta demokrasi yang akan dilaksanakan pada  hari rabu, 27 Juni 2018. sosialisasi PILKADA Serentak 2018 tersebut dilakukan  di MAN 3 Tulungagung yang sebelumnya bernama MAN 3 Rejotangan.

Sebelum acara dimulai mahasiswa HTN IAIN Tulungagung harus menunggu acara dari sekolah dulu karena pada hari itu bertepatan dengan acara memperingati hari kartini dengan acara Tausiyah. Setalah acara tersebut selesai, giliran kami yang diberiakan kesempatan untuk menyampaikan materi berkaitan dengan kepemiluan. Terlihat wajah-wajah para pemuda bangsa yang antusias dengan acara sosialisasi tersebut. Gemuruh suara siswa-siswi MAN 3 Tulungagung memenuhi setiap sudut aula, banyak juga dari mereka yang diluar aula karena aula tidak cukup untuk menampung seluruh siswa-siswi MAN 3 Tulungagung.

Sebagian dari mereka ada yang sudah tau akan adanya pemilihan kepala daerah yang akan dilaksakan pada tanggal 27 Juni 2018 mendatang beserta pasangan calon bupati dan wakil bupati Tulungagung serta calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur. Apalagi ketika mereka diajak menggelorakan yel-yel PEMILU 2018 “PILKADA 2018 SUKSES. TULUNGAGUNG DAMAI. SING NYOBLOOS JOOOSSS!!!!! Yang diwakili Oleh siswa MAN 3 Tulungagung bernama fadholi siswa jurusan MIA 2B.

Kegiatan sosialisai tersebut tidak berhenti hanya di MAN 3 Tulungagung. Minggu tanggal 22 April 2018 kita melanjutkan kegiatan sosialisasi serupa yang bertempat di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadien Kecamatan Ngunut. Dalam sosialisasi PILKADA Serentak 2018 di pondok pesantren ini diberikan waktu dua kali sosialisasi. Pertama di Pondok Putra Sunan Gunung Jati dan kedua di pondok putri Pandanaran. Dalam sosialisasi kali ini antusias mereka tidak kalah dengan semangat dengan MAN 3 Tulungapphmgung tempat sosialisasi sebelumnya, sebab banyak juga pemilih pemula di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadien Kecamatan Ngunut. Dari pihak pondok pesantren sendiri sangat senang akan adanya sosialisasi seperti ini di karenakan sebelumnya belum pernah ada sosialisasi PILKADA Serentak 2018 di pondok mereka.

Sosialisasi di pondok putra Sunan Gunung Jati sekitar pukul 09.30 WIB dan selesai pada pukul 10.30 WIB. pphm2Di pondok putra, antusiasme siswa-siswa sangat tinggi, mereka berfikir kritis dengan menanyakan masalah-masalah terkait PILKADA Serentak 2018. Sedangkan, di pondok putri  Pandanaran antusias santrinya juga tak kalah tinggi dari pada pondok putra. Sosialisasi dimulai pada pukul 10.45 WIB dan selesai pada pukul 11.30 WIB dan diakhiri dengan yel-yel KPU Tulungagung. (Dani, Hanik, Nabila)

index trenggalekMahasiswa Hukum Tata Negara (HTN)  IAIN Tulungagung berhasil meraih prestasi  bergengsi. Ia menjadi juara pertama Duta Genre (Generasi Berencana) 2018 Tingkat kabupaten Trenggalek. Acara ini digagas oleh Badan Kependudukan dan keluarga berencana (BKKBN). Tujuanya untuk mewadai anak-anak muda kususnya untuk mensosialisasikan progam-progam dari BKKBN yaitu dengan cara penyuluhan ataupun dengan pembetukan  pusat informasi konseling remaja (PIKR)

    Dia adalah Renanda mahasiswa Hukum Tata Negara semester 4 fakultas syariah dan ilmu hukum (FASIH) Iain Tulungagung. Mahasiswa semester empat  ini memang aktif dibeberapa organisasi mahasiswa antara lain pengurus HMJ HTN periode 2017 dan aktif di Radio genius FM IAIN Tulungagung. Pada acara tersebut ia harus bersaing dengan 79 remaja yang tersebar di kabupaten trenggalek  dimana kapabilitas dan pengetahuan mereka diuji seputar pengetahuan tentang BKKBN, Kemampuan penyuluhan, skill dan bakat.

      Renanda Menjelaskan bahwa kriteria penilaian meliputi brain brave, behaviour, beauty, publik speaking, wawasan, dan cara memecahkan suatu masalah tetapi kriteria yang  paling utama skill, penyuluhan sama intelegensi.”

     Sebagai juara satu duta genre Trenggalek renanda mengugkapkan keinginanya untuk tetap berkontribusi dalam segala sesuatu demi kebaikan remaja melalui BKKBN.” Keinginan saya sebagai  duta genre adalah untuk tetap bisa berkontribusi demi kebaikan remaja melalui genre ini, kemudian menyebarkan  informasi genre kepada seluruh lapisan masyarakat. Dan insyaallah ini akan maju di tingkat provinsi mewakili trenggalek dalam duta genre jawa timur dan harapan saya bisa lolos sampai ke nasional” pungkasnya.

Sabtu, 14 April 2018 Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung mengirimkan Lima belas perwakilan mahasiswa dari jurusan Hukum Tata Negara untuk menghadiri “Bimbingan Teknis Relawan Demokrasi Menghadapi Pilkada serentak 2018” di Kantor KPU Tulungagung. Selain dari Lima belas perwakilan mahasiswa, Bimbingan Teknis Relawan Demokrasi juga dihadiri oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum dan Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Tulungagung. Kegiatan ini dimulai pada pukul 10.00 WIB.

kpu2Lima belas perwakilan mahasiswa ini akan bertugas dalam sosialisasi menuju Pemilu 2018. Selain itu Tulungagung sendiri juga akan mengadakan Pilihan Kepala Daerah (Pilkada), maka dari itu KPU Tulungagung butuh dukungan dari para masyarakat khususnya para pelajar atau mahasiswa dalam mensosialisasikan kegiatan tersebut. Dalam sambutan Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung mengatakan “Semoga Lima belas perwakilan ini mampu bekerja secara maksimal dan nantinya dapat meningkatkan kepercayaan kepada kita (Mahasiswa Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum) untuk bekerja sama menjadi relawan KPU, serta diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman bagi kita semua”. Ini merupakan kesempatan luar biasa bagi 15 perwakilan mahasiswa Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum dapat menjadi bagian dari kegiatan KPU Tulungagung dalam persiapan Pilkada serentak 2018 sekaligus menjadi beban yang harus diemban untuk dapat bekerja secara maksimal dan penuh tanggung jawab.

kpu3

kpuSasaran sosialisasi dari Lima belas perwakilan ini adalah pemilih pemula dengan mendatangi atau melakukan sosialisasi langsung ke Madrasah Aliyah maupun Pondok Pesantren yang ada di Tulungagung. Lima belas perwakilan ini dibagi 5 (lima) tim dengan tempat yang berbeda-beda untuk melakukan kegiatan sosialisasi diantaranaya MAN 1 Tulungagung, MAN 2 Tulungagung, MAN Rejotangan, PPHM Ngunut, MAS al Ma’arif Tulungagung, MAS Darul Hikmah Kedungwaru, MAS Unggulan Bandung, PP. Madinul Ulum Campur Darat, PP. al Hikmah Kauman, PP al Ghazali (pa) Karangrejo, PP Sholahiyatul Fatah (pi) Karangrejo. Harapan dari kita sebagai perwakilan Relawan Demokrasi yaitu dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pemilih pemula guna menambah pengetahuan mereka tentang Pilkada.

Dalam kegiatan Bimbingan Teknis ini, Ketua Komisi Pemilihan Umum Tulungagung memberikan informasi guna memantabkan materi bagi perwakilan Relawan Demokrasi.  Ketua Komisi Pemilihan Umum Tulungagung memberikan pengetahuan tentang tugas-tugas yang diemban oleh KPU, istilah-istilah dalam KPU, tahapan-tahapan Pilkada, dan lain sebagainya. Ketua KPU Kabupaten Tulungagung juga mengatakan bahwasanya dalam segala kegiatan yang sudah terencana oleh program KPU, Lima belas perwakilan ini dapat bergabung kapanpun. “Perwakilan mahasiswa ini tidak hanya melakukan sosialisasi pada saat hari yang telah ditentukan saja, jika selesai maka berakhir sudah. Melainkan mereka bisa ikut serta dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan KPU Tulungagung” Ucap Bapak. Suprihno, M.Pd selaku Ketua KPU Tulungagung.

Selain dari Ketua KPU Tulungagung, ada pula materi dari Bpk. Arman selaku Divisi Sosialisasi. Beliau memberikan materi tentang bagaimana dan apa saja yang disampaikan saat sosialisasi serta pelanggaran-pelanggaran dalam Pemilu. Dengan adanya materi tentang sosialisasi ini sangat membantu kita untuk berhati-hati dalam kegiatan pemberian informasi tentang Pilkada. Hal ini ditujukan agar tidak terjadi pelanggaran dalam Pilkada.

Setelah pemberian materi yang dirasa cukup untuk membantu dalam kegiatan Relawan Demokrasi, para perwakilan mahasiswa melakuakn sesi foto bersama dan pemberian id card sebagai relawan. Kegiatan Bimbingan Teknis Relawan Demokrasi ini diakhiri pukul 12.00 WIB. Setelah kegiatan Bimbingan Teknis ini, diharapkan perwakilan mahasiswa segera melaksanakan tugas yang harus dipertanggungjawabkan. (Astri)

Secara filosofi, sessungguhnya tak ada orang besar dan tak ada orang kecil dalam takaran pemilik ekonomi  atau perbedaan status sosial budaya. Kecil dan besar hanya terjadi pada kualitas kepribadian. (Emha Ainun Nadjib)

      Siapa bilang yang memilih progam Hukum Tata Negara adalah mahasiswa  dengan pilihan yang terakhir? Argumen ini ingin sekali diberontak oleh mahasiswa hukum tatanegara  IAIN Tulungagung.  Akhirnya merekapun membentuk sebuah forum  yang informal dengan nama “forum Diskusi Mahasiswa Hukum Tata Negara” yang biasa  disingkat dengan FORDISMA.

      Rabu, (11/04) Forum diskusi mahasiswa Hukum Tata Negara (FORDISMA) menggelar forum diskusi di balkon gedung Saifudin Zuhri degan tema kajian “politik hukum” dengaan pemantik Nanang Zuli Purwanto Mahasiswa semester 6. FORDISMA ini kegiatanya adalah menggelar diskusi-diskusi mengenai Hukum tatanegara  yang aktual kadang mengenai isu-isu sosial kadang pula mengenai kajian-kajian hukum tatanegara. Sebagai sebuah forum yang informal maka diskusi ini bisa digelar dimana saja. Bisa itu meminjam ruangan, di balkon gedung saifudin zuhri,  di gazebo, dilorong kampus atau bahkan di luar kampus.

foto  foto 2 Anggota group FORDISMA yang aktif sekitar 15 orang. Memang belum banyak, tetapi kegiatan pertemuan diskusi seperti ini ini akan kami galakkan setidaknya seminggu sekali mengingat forum ini masih baru di entuk, dan kedepanya akan dibentuk kepengurusan, kami  terinspirasi dari LSM (Lembaga swadaya Masyarakat)”ujar novita dari devisi Intelektual sekaligus pencetus group FORDISMA.

      Lathiful M, Ketua Himpumnan Mahasiswa Jurusan (HMJ) mengatakatan semoga ini bisa rutin seminggu sekali. Dari pihak kajur sudah sangat mendukung. Kegiatan ini Bagus untuk membangun semangat akademisi dan membangun kualitas diri.  lagian kedepan peminat  Htn akan lebih banyak terbukti sekarang mahasiswa htn dari tahun ke tahun selalu meningkat.

      Tidak hanya diskusi, beberapa anggota FORDISMA sempat dilibatkan dalam kegiatan P3H milik Lembaga Dema Fakulas  Syari’ah Dan Ilmu Hukum (FASIH). Di lembaga  itulah ide ide Hukum Tata Negara digelontorkan seperti  Diskusi kajian UU MD3 oleh lembaga dema FASIH kemarin.  Juga ada yang terjun ke KPU dengan menjadi PPK, PPS dan lain sebagainya. (El_Lathif)

IMG-20180402-WA0012 IMG-20180402-WA0010 IMG-20180402-WA0009

 

 

 

Pemilu adalah sarana perwujudan kedaulatan rakyat, guna menghasilkan pemerintahan yang berkualitas, profesional dan berintegritas, tidak mengandalkan uang untuk sebuah kekuasaan. Maka akan terwujud negara yang makmur dengan kualitas pemimpinnya yang kompeten.

Tahun ini disebut tahun politik karena sebentar lagi akan ada pesta demokrasi pemilihan pemimpin daerah dan pemilu Anggota Legislatif dan Presiden beserta wakil Presiden. Komisi Pemilihan Umum seluruh Indonesia membuka lebar lebar bagi calon penyelenggara pemilu untuk mensukseskan Pilkada serentak tahun 2018 dan Pemilu tahun 2019 yaitu pemilihan Anggota Legislatif dan Presiden beserta Wakil Presiden periode 2019 sampai 2024.

Sebagai perwujudan mahasiswa sebagai insan yang kontribusinya dinanti-nantikan oleh negara, maka mahasiswa harus ikut andil dalam pesta demokrasi untuk menghasilkan pemimpin yang berkualitas, terutama untuk para mahasiswa jurusan Hukum Tata Negara, mereka dituntut untuk ikut mengawal serta mensukseskan jalannya pesta demokrasi tersebut. Keikutsertaan mahasiswa Hukum Tata Negara IAIN Tulungagung salah satunya terlihat pada pelantikan Panitia Pemungutan Suara (PPS) di Crown Victoria Hotel Tulungagung yang diselenggarakan Pada tanggal 08 Maret oleh KPU Tulungagung. Dimana salah satu anggota terlantik Rizka Nurkhabib dan Asyamin berasal dari mahasiswa Hukum Tata Negara. Pelantikan yang dihadiri oleh 813 PPS se-Kabupaten Tulungagung tersebut disaksikan oleh seluruh Komisioner KPU, Anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu), Forum Pimpinan Daerah (Forpida), Camat se-Kabupaten Tulungagung, dan instansi yang terkait.

Selain Rizka Nurkhabib dan Asyamin masih banyak mahasiswa Hukum Tata negara IAIN Tulungagung yang juga ikut serta dalam penyelenggara Pilkada serentak 2018 dan Pemilu tahun 2019 yaitu pemilihan Anggota Legislatif dan Presiden beserta Wakil Presiden periode 2019 diantaranya, Aris Saifur Rohman PPS di Blitar, Eliyana  PPS di Kabupaten Trenggalek, dan Imam Muhlin PPK Blitar.

Rizka Nurkhabib mengungkapkan kebanggannya setelah dilantik menjadi anggota PPS dengan perkataan yang berapi-api dia berkomitmen untuk menjadi penyelenggara pemilu yang dapat diandalkan dan kedepannya dia berharap lebih banyak lagi mahasiswa Hukum Tata Negara yang dapat mengikuti jejaknya.

IMG-20180327-WA0028 IMG-20180327-WA0021IMG-20180327-WA0020

 

 

 

Jum’at – Minggu, 23-25 Maret 2018 Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung mengadakan agenda besar tahunan yaitu Fasih Law Fair. Dalam Fasih Law Fair 2018 ini mengusung tema “Membangkitkan Kesadaran Hukum Bagi Kaum Marginal Untuk Menghasilkan Pemimpin Yang Anti Korupsi”. Fasih Law Fair 2018 ini menjadi tahun ke-2 diadakannya agenda tahunan tersebut.

Fasih Law Fair 2018 berlangsung sangat meriah dengan berbagai kegiatan yaitu Grebeg Tumpeng dan Lomba Hias Tumpeng, Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional tingkat Mahasiswa, Lomba Debat Hukum tingkat SLTA sederajat Regional Jawa Timur, dan Seminar Nasional.

Pada hari Jum’at, 23 Maret 2018 merupakan hari pertama dari kegiatan Fasih Law Fair 2018. Kegiatan tersebut adalah pembukaan Fasih Law Fair 2018. Pembukaan tersebut ditandai dengan adanya Grebeg Tumpeng yang kemudian disusul dengan kegiatan Lomba Hias Tumpeng yang diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung. kegiatan ini dimulai pukul 08.00 WIB.

Pada hari kedua yakni Sabtu, 24 Maret 2018 dilanjutkan dengan kegiatan Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional tingkat Mahasiswa dan Lomba Debat Hukum tingkat SLTA sederajat Regional Jawa Timur. Dalam kegiatan Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional tingkat Mahasiswa ini diambil 5 (lima) Karya Tulis terbaik untuk di presentasikan. Lima Karya Tulis Ilmiah tersebut dari Universitas Brawijaya, UIN Malik Ibrahim Malang, Universitas Negeri Hasanuddin Makassar, STAI Hasanuddin Jufri Bawean, dan IAIN Purwokerto. Sedangkan dalam Lomba Debat Hukum tingkat SLTA sederajat Regional Jawa Timur diikuti kurang lebih 15 tim dari berbagai Sekolah Menegah Atas yang ada di Jawa Timur.

Minggu, 25 Maret 2018 merupakan hari terakhir dari kegiatan Fasih Law Fair 2018. Kegiatan itu yakni Seminar Hukum Nasional dengan pemateri Dr. Ir. Tri Rismaharani, M.T (Wali Kota Surabaya), Mas Agung Dewanto (Fungsional Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK), dan Hifdzil Alim, S.H., M.H. (Peneliti di PUKAT FH UGM). Acara seminar ini berlangsung sangat meriah dengan antusiasnya mahasiswa IAIN Tulungagung khususnya Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum serta masyarakat umum yang mengikuti seminar tersebut. Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 – 13.30 WIB.

Fasih Law Fair ini bertujuan untuk mempererat kekeluargaan antar mahasiswa fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Tulungagung, serta menumbuhkembangkan kreatifitas dan ide-ide mahasiswa Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum. Fasih Law Fair 2018 ini bisa dikatakan tahun yang sukses dibanding dengan tahun sebelumnya. Khamim selaku Ketua Pelaksana mengatakan “Fasih Law Fair di tahun ini (2018) sangat sukses, karena di tahun ini Fasih Law Fair berkembang di tingkat Jawa Timur bahkan ke tingkat Nasional.” Harapan selanjutnya semoga kegiatan Fasih Law Fair 2019 akan lebih sukses dari tahun 2018. (Astri Fau).