MAHASISWA HTN IAIN TULUNGAGUNG TANGKAL RADIKALISME KAMPUS

          index13 index2 index1Bertepatan, 1 Juni 2018 sekaligus sebagai hari lahirnya Pancasila, Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara IAIN Tulungagung menggelar acara Buka Bersama dan Diskusi dengan Tema Peran Mahasiswa HTN dalam menangani Radikalisme di kampus. Acara ini dihadiri oleh Bapak Dr. Darin Alif Muallifin, S.H., M.Hum. selaku Wakil Dekan 3, dan juga dihadiri oleh ibu dosen Ashima Faidati, M.Sy sebagai pemateri.

         Isu radikalisme akhir-akhir ini menyita banyak perhatian warga masyarakat. Puncaknya adalah peristiwa bom beruntun di daerah Surabaya dimana diawali dengan diledakkannya bom bunuh diri oleh satu keluarga di 3 Gereja di Surabaya. Paham radikalisme benar-benar sudah menyebar dengan luas, dan banyak dikatakan bahwa paham ini berasal dari kelompok ajaran agama Islam. Kalau kita mau telusuri sebentar, sebenarnya Islam memiliki 3 kelompok, yaitu kelompok Islam Liberal, Islam Moderat, dan Islam Radikalisme.

          Islam Liberal, merupakan suatu kelompok dimana umatnya menginginkan kebebasan, bahkan bisa sampai ajaran-ajaran atau paham-paham mereka jauh dari nash-nash yang sesungguhnya. Sebaliknya, ada Islam Radikal atau bisa juga dikatakan Islam Fundamental. Kelompok ini lebih mengacu pada tekstual tanpa memperdulikan kontekstual. Dan yang ketiga, adalah Islam Moderat. Kelompok ini bisa dikatakan merupakan kelompok tengah-tengah, antara kelompok Liberal dan kelompok Radikal atau Fundamental.

         Paham radikalisme, dewasa ini mempengaruhi banyak pihak. Mereka menyebarkan paham-paham mereka melalui banyak media, yang paling marak adalah melalui media sosial. Target utama kelompok ini adalah para siswa-siswa, bahkan ada yang dari kecil sudah dicekoki paham-paham radikal. Lalu masuk ke tahap kampus kelompok ini menargetkan mahasiswa dan dosen.

Lalu bagaimana bisa paham radikalisme masuk ke tahap mahasiswa? Sebenarnya, sasaran dari kelompok ini bukan semua mahasiswa. Mereka mencari target pada mahasiswa-mahasiswa yang memliki keilmuan keagamaan yang rendah. Tahap mahasiswa merupakan tahap dimana mencari jati diri, dimana ditahap ini mereka haus ilmu dan pengetahuan.Dari rasa haus inilah, dengan basic keilmuan agama yang masih kurang, mahasiswa-mahasiswa seperti ini menjadi sasaran empuk bagi kelompok-kelompok radikalisme untuk dicekoki paham mereka. Dan akan lebih mudah dipengaruhi karena rasa penasarannya. Ujar Ibu Ashima.

 Lalu bagaimana kita menangani radikalisme?

        Kita harus memiliki basic keilmuan agama yang lebih, karena jika keilmuan agama yg kurang akan lebih mudah dipengaruhi atau disusupi oleh paham-paham radikalisme. Kedua, kita harus paham dimana kita tinggal. Kita harus mempelajari sederet sejarahnya, pelajari nilai-nilai Pancasila. Dengan mempelajari Pancasila secara seksama, ini merupakan wujud dari sikap kita melakukan pembatasan terhadap menyebarnya benih-benih paham radikalisme. Kita bisa melakukan kajian-kajian dengan catatan kajian tersebut tidak mengandung unsur-unsur provokatif tentang paham-paham radikalisme, jelas Ibu Ashima. Menurut beliau, Islam di Indonesia merupakan Islam Rahmatan lil Alamin, dimana Islam disini melindungi seluruh lapisan masyarakat dan menegakkan keadilan serta kesejahteraan.

Selanjutnya menurut Bapak Dr. Darin, hal yang bisa dilakukan lagi untuk menangkal paham radikalisme adalah dengan konsep silaturrahmi yang harus dikembangkan oleh para mahasiswa terhadap mahasiswa yang lain.   Jangan dikonfrontasi, ajaklah dia, peluk dengan mesra. Dia adalah keluargamu. Dia hanya sedang tersesat pemikirannya. tutup beliau. (Nbl/bt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>