OPINI

Mencari Pemimpin Aspiratif

Oleh: Vendra
Mahasiswa Semester II Jurusan HTN Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum
IAIN Tulungagung
 

        Memasuki tahun politik 2018, kita dihadapkan pada realitas permasalahan yang cukup urgen, yaitu bagaimana kita dapat mencari pemimpin yang benar-benar sesuai dengan apa yang di kehendaki oleh rakyat. Lalu, bagaimana kita dapat melihat kandidat paslon yang baik, tentu pertanyaan sekaligus pernyataan semacam itu akan kerap kita dengarkan menjelang Pilkada Serentak yang akan datang ini.

          Pemimpin yang Aspiratif sangat diharapkan masyarakat, karena masyarakat sudah sangat bosan dengan pemberitaan pemberitaan tertangkapnya wakil wakil rakyat. Serta lahirnya UU MD3 yang dianggap tidak mempedulikan aspirasi masyarakat. Pemerintah juga sudah memberi dukungan dengan mengadakan pemilu sebagai wujud nyata dari implementasi demokrasi, walaupun demokrasi  tidak bisa dikatakan  hanya sebagai pemilihan umum. Pemilu hanyalah salah satu bagian dari demokrasi, tentu harus mentradisikan pelaksanaan pemilu yang periodik untuk memilih para pejabat- pejabat publik baik diurusan legislatif maupun eksekutif.(fadjar 2013,vii). Inilah kesempatan yang harusnya digunakan masyarakat untuk memilih pemimpin yang aspiratif, sangat disayangkan jika masyarakat tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Sebelum kita mengurai tentang beberapa ciri-ciri pemimpin yang aspiratif, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu definisi dari aspiratif. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), aspiratif berarti mampu memberi harapan dan menggapai tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang. Definisi kedua yaitu aspiratif adalah bersifat memiliki ilham yang timbul dalam mencipta.

         Jika kita mengacu pada definisi aspiratif yang pertama yaitu “aspiratif berarti mampu memberi harapan dan menggapai tujuan untuk keberhasilan pada masa yang akan datang”. Maka, seorang pemimpin haruslah memberi harapan yang baik bagi masyarakat, yang dimana dengan harapan tersebut, masyarakat setidaknya akan percaya bahwa calon pemimpinnya akan memberikan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Namun, tentu tidak hanya harapan saja yang diperlukan masyarakat, maka kata-kata selanjutnya ialah menggapai tujuan, paling tidak lewat program kerja para kandidat, seluruh rakyat berharap penuh bahwa program kerja tersebut akan mampu mewakili harapan sekaligus tujuan daripada masyarakat luas.

Memilih Pasangan Calon Yang Aspiratif

     Masyarakat di masa lalu cenderung terbatas untuk menerima informasi mengenai pasangan calon pemimpinya. kemudian di era sekarang masyarakat lebih leluasa untuk melihat siapa sebenarnya pasangan calon tersebut. Ini adalah kesempatan untuk melihat apakah pasangan caloon tersebut sesuai kriteria yang diharapkan. Kita tentunya masih ingat dan tak ingin tragedi era reformasi tahun 1998 terjadi lagi. Sebuah aksi akibat kesewenang-wenangan penguasa dan suara rakyat dibungkam sehingga mengakibatkan puluhan bahkan ratusan nyawa menghilang.

Dua bulan lagi pesta demokrasi Pilkada serentak 2018.. Banyak dari partai politik dan pasangan calon mulai mempromosikan diri dengan berbagai cara untuk mendapatkan suara sebanyak-banyaknya dengan tujuan agar bisa duduk di kursi eksekutif. Seiring dengan adanya Pilkada tersebut pemerintah melakukan berbagai cara untuk mengajak masyarakat ikut berpartisipasi dalam Pilkada tersebut. Dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tak henti-hentinya menyelenggarakan sosialisasi di beberapa daerah dan kampus

       Pemimpin yang aspiratif  nantinya diharapkan bisa mendengar suara-suara rakyat dan bisa membawa bangsa ini untuk menggpai cita-cita negara yang termaktub di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 19945. Tentu masyarakat harus lebih hati-hati untuk memilih calon-calon pemimpinya nanti dalam Pilkada. Tidak asal coblos apalagi memilih yang memberi uang yang sudah jelas paslon tersebut melanggar UU Pilkada pasal 187 yang berbunyi “Setiap orang yang dengan sengaja menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainya sebagai imbalan kepada warga negara indonesia ataupun tidk langsung untuk mempengruhi pemilih  agar tidak menggunakan hak pilih dengan cara tertentu sehingga suara menjadi tidak sah memilih calon tertentu atau tidak memilih calon tertentu sebagaai mana paal 73 ayat 4 dipidana dengan pidana penjara paling singkat  36 bulan dan paling lama 72 bulan dan denfda paling seikit Rp.200.000000 dan paling banyak 1.000000000.

Lalu pertanyaanya bagaimana memilih pasangan calon pemimpin yang aspiratif?

     Dalam sebuah diskusi pagi Akhol firdaus(2018) menyebutkan “saat ini masyarakat jangan selalu disebut awam, karena di era yang seperti masyarakat haruslah cerdas, cerdas mengamati, cerdas memilih, cerdas mengenali indikator paslon yang tidak sekedar berjanji”. Beliau juga menambahkan setidaknya ada tiga unsur paslon yang baik, yaitu jujur, amanah dan aspiratif.

       Tentu dapat kita simpulkan, bahwa jika kita diberi peluang lewat sebuah sistem yang bagus untuk dapat mengkoreksi, memberi masukan ataupun mengapresiasi pemerintah. Maka kita dapat yakin, bahwa kedepanya akan ada sinergi yang baik antara pemerintah dan masyarakat yang implikasinya adalah terpenuhinya apa yang menjadi kehendak dari masyarakat itu sendiri.

        Abad Badruzzaman (2018). Beliau menuturkan tentang empat sifat kenabian, yang jika itu terdapat dalam sifat paslon maka itulah sosok pemimpin aspiratif yang tepat untuk masyarakat. Empat tipologi yang di maksud itu yakni pertama ialah sifat Siddiq. Siddiq dalam artian sifat kenabian adalah benar, benar disini bukan hanya sekedar benar secara lahiriyah dan batiniyah saja, tapi siddiq disini dalam artian dia sudah selesai dengan dirinya, maka dia sekarang nihil akan kepentingan pribadinya. Kedua, yaitu Amanah yang berarti dia terpercaya. Ketiga, yakni Tabligh, tabligh disini adalah dalam makna artikulatif yaitu seorang pemimpin mampu menjadi sendi penggerak hubungan antara rakyat dengan pemerintah begitu pula sebaliknya. Keempat, yakni Fathanah, bukan hanya sekedar cerdas namun genius dalam kreatifitas menyelesaiakan permasalahan yang ada.

         Sebagai penutup dari tulisan ini mengutip dari pendapat akhol firdaus (2018) pada sebuah diskusi pagi yang dapat saya simpulkan tentang Mencari pemimpin yang aspiratif. Aspiratif adalah “bersifat memiliki ilham yang timbul dalam mencipta”. Jika kita bicara soal ilham, ilham adalah petunjuk Tuhan yang timbul dari hati. Maka, seorang yang diciptakan menjadi pemimpin itu sebenarnya sudah terlihat, lewat alur berfikirnya serta lewat tindakannya yang mencerminkan krentek (hasrat) yang muncul dari hatinya yang memang anugerah dari Tuhan. Lalu kata yang terakhir yakni “mencipta”, kata mencipta ini bukan sekedar menghasilkan sesuatu, namun mencipta adalah memebuat sesuatu dengan kekuatan batin. Kekuatan batin disini tentu tanpa petunjuk dari Tuhan atau yang disebut dengan ilham, maka yang ada hanyalah pencitraan. Dapat kita lihat jika seorang bicara dengan hati, itu pasti seperti ada nyawanya, kita seakan tergerakkan lewat kata-katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>