MALAM SOSIAL KEAKRABAN “Mengukir Sejarah di Waktu Muda untuk Cerita di Masa Tua”

makrab

Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung mengadakan Masker (Malam Sosial Keakraban) di Tulungagung. Acara ini di laksanakan di Pantai Bayeman Desa Keboireng Kabupaten Tulungagung. Masker ini didampingi oleh Ketua dan Wakil Kelompok Sadar Wisata Desa Keboireng yaitu Bapak Jumardi dan Bapak Purwanto.

Pada pukul 13.00 WIB berangkat dari kampus dan tiba disana pada pukul 14.00 WIB. Acara di mulai pada pukul 15.00 WIB untuk mendirikan tenda dan bakti sosial daerah pantai bersama Kelompok Sadar Wisata Desa Keboireng. Setelah selesai bakti sosial disekitar pantai dilanjutkan ishoma untuk bersih diri dan sebagainya. Pukul 18.30 diadakan Tahlil bersama mahasiswa Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial IAIN Tulungagung yang di pimpin oleh Hasbulloh Lung Aziz mahasiswa Semester 5 Tadris IPS IAIN Tulungagung. Setelah tahlil bersama pada pukul 20.00 WIB diadakan diskusi yang membahas awal mula Pantai Bayeman. Diskusi tersebut di isi oleh Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Keboireng Bapak Jumardi beserta Wakilnya Bapak Purwanto. Diskusi tersebut juga membuka sesi Tanya jawap bagi mahasiswa yang ingin bertanya tentang awal mula Pantai Bayeman.

Keesokan harinya diadakan senam pagi dan game yang diikuti seluruh mhasiswa Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial IAIN Tulungagung. Pada pukul 09.00 WIB acara sudah ditutup dan persiapan kembali ke rumah masing-masing.

Malam Sosial Keakraban bertujuan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan rasa solidaritas antar mahasiswa. Masker juga dapat mempererat tali silaturahmi atau rasa persaudaraan antarmahasiswa, baik dengan kakak tingkat maupun adek tingkat. Diadakannya diskusi dengan Ketua Pok Darwis Desa Keboireng juga dapat menambah wawasan seputar lingkungan sekitar camp. Sebagai orang sosial yang dikaitkan dengan masyarakat, kegiatan ini juga melatih mahasiswa untuk terjun dengan masyarakat setempat seperti halnya bakti sosial di daerah pantai bersama Kelompok Sadar Wisata daerah setempat.

Dengan diadakanya Malam Sosial Keakraban semoga mahasiswa Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial IAIN Tulungagung akan semakin kompak, solit, dalam menjaga kerukunan antar mahasiswa dan khususnya kompak untuk bersama-sama memajukan Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial. (Ulfa Choirun N. TIPS 4A)

SEMINAR NASIONAL “EKONOMI KREATIF BERBASIS KEARIFAN LOKAL”

arumiHimpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung menggelar Seminar Nasional. Tema yang diusung adalah ”Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal”. Acara ini dilaksanakan di lantai 6 Gedung KH. Saifuddin Zuhri IAIN Tulungagung.

Pada pukul 10.20 WIB acara ini dimulai. Sebelum pembukaan, ditampilkan pagelaran seni karawitan dari mahasiswa PIAUD untuk memperkenalkan budaya khas Tulungagung kepada 300 peserta seminar. Dalam seminar tersebut dihadiri para pejabat dilingkungan FTIK baik itu Dekan, Wakil Dekan dan Para Ketua Jurusan. Menambah semaraknya acara seminar nasional tersebut, Rektor IAIN Tulungagung oleh Dr. Maftukhin, M.Pd.I turut serta dalam membuka acara tersebut.

Seminar yang bertujuan menumbuh kembangkan ekonomi kreatif tidak bisa lepas dari budaya setempat. Budaya yang didalamnya terdapat kearifan lokal yang memiliki nilai dan karakteristik daerahnya. Nilai dan karaktersitik ini diterjemahkan kedalam bentuk produk kreatif.Sehingga perlu adanya wawasan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.Ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal ialah ekonomi yang dimulai dari masyarakat, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri. Ekonomi yang ada dari mulai bahan baku, pekerja, sampai manfaatnya dirasakan sendiri oleh masyarakatnya.” tutur Arumi Bachsin sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan owner Batik Arumi Kabupaten Trenggalek.

Arumi menyampaikan bahwa penting untuk menekankan tumbuhnya jiwa wirausaha dalam Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM ) sebagai peningkatan potensi ekonomi daerah. Arumi juga menambahkan, “Untuk membantu ekonomi desa, ekonomi kabupaten atau secara luas lagi ekonomi Indonesia, memang harus dari UMKM, memang harus dari seluruh pihak harus bergandengan tangan membangun diri mereka sendiri karena kita tidak harus terus menerus dijejali dengan budaya konsumtif.”

Kreativitas produk masyarakat UMKM ditampung dalam Dekranasda. Produk tersebut dipasarkan secara online dibawah naungan DekranasdaSebelumnya, mereka mendapatkan pelatihan sampai mampu membangun UMKM sendiri. Dekranasda hadir karena keputusan pada tanggal 3 Maret 1980. Pada dasarnya dekranasda  dibentuk karena kekhawatiran berkurangnya pengrajin atau pengusaha yang memproduksi budaya lokal.

“Potensi industri kreatif dalam sektor ekonomi kreatif ke depannya akan tetap menjadi sebuah alternatif  penting  dalam  meningkatkan kontribusi dibidang ekonomi dan bisnis, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, media  komunikasi, menumbuhkan inovasi dan kreativitas, dan menguatkan identitas suatu daerah (city branding). Selain itu Budaya harus menjadi basis pengembangannya.Dalam kebudayaan lokal ada yang disebut dengan kearifan lokal yang menjadi nilai-nilai bermakna,antara lain, diterjemahkan ke dalam bentuk fisik berupa produk kreatif daerah setempat. Ekonomi kreatif tidak bisa dilihat dalam konteks ekonomi saja, tetapi juga dimensi budaya. Ide-ide  kreatif yang muncul adalah produk budaya. Karenanya,strategi kebudayaan sangat menentukan arah perkembangan ekonomi kreatif.” tutur Bapak Sutopo selaku Ketua Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial.

Berdasarkan pendapat tersebut, muncul keinginanJurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial mendatangkan Ketua Dekranasda sekaligus owner batik Arumi Trenggalek untuk bisa sharing ilmu dan pengalamannya di IAIN Tulungagung. Kegiatan ini juga sebagai salah satu penguatan matakuliah kewirausahaan khususnya bagi mahasiswa IPS umumnya bagi jurusan lain yang menempuh matakuliah kewirausahaan. (D. Ummah_TIPS)

SEMINAR NASIONAL “Peran Pendidikan IPS dalam Mewujudkan Nilai Karakter Bangsa yang Berbudaya”

emil 2Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Institut Agama Islam (IAIN) Tulungagung  mengadakan Seminar Nasional. Tema yang diusung adalah Peran Pendidikan IPS dalam Mewujudkan Nilai Karakter Bangsa yang Berbudaya. Acara dilaksanakan di Swaloh Hill Resort, Wonorejo Tulungagung.

Acara pembukaan dimulai pukul 09.00 WIB dan dibuka langsung oleh Maftukhin selaku Rektor IAIN Tulungagung. Sebelum pembukaan, untuk memeriahkan sekaligus memperkenalkan budaya Tulungagung kepada peserta seminar, juga menampilkan ikon kesenian Tulungagung yakni Reog Kendang.

Seminar nasional ini merupakan rangkaian acara dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dari Aliansi Mahasiswa IPS Seluruh Indonesia (Almabipsi). Untuk tahun ini (2017, red) IAIN Tulungagung diamanati untuk menjadi tuan rumah dari agenda Rakernas.

“Pada awalnya kami hanya ingin mengadakan agenda Rakernas, tetapi kami mendapat masukan dari Ketua Jurusan (Kajur) Tadris IPS untuk mengadakan acara Seminar Nasional. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami menyepakati mengadakan Seminar Nasional dalam agenda Rakernas ini”, Harun, ketua umum  HMJ IPS, menceritakan latar belakang mengadakan Seminar Nasional.

Seminar yang diadakan oleh HMJ IPS menghadirkan Emil Elestianto Dardak, Bupati Trenggalek periode 2016/2021. “Kami menghadirkan Emil Dardak karena kami merasa beliau adalah orang yang tepat untuk mengisi acara seminar ini. Selain itu kami juga berusaha menarik minat dari peserta khususnya yang dari trenggalek, melihat banyaknya mahasiswa iain tulungagung yang berasal dari trenggalek”, ujar Harun.

emil 1

Selain dari mahasiswa IAIN Tulungagung, acara ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari kampus luar Tulungagung. Turut hadir dalam agenda seminar ini yaitu dari (Universitas Islam Negeri) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, IAIN Syekh Nur Jati Cirebon dan masih banyak lagi perguruan tinggi lain. Kurang lebih ada 14 perguruan tinggi yang hadir dan tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pendidikan IPS Seluruh Indonesia (Almabipsi).

“Agenda kali ini,” tambah harun, “jumlah peserta yang hadir melebihi perkiraan awal, dimana kami memperkirakan jumlah peserta yang hadir adalah 300 peserta, ternyata jumah peserta yang hadir sejumlah kurang lebih 470 orang peserta. Selain dari mahasiswa peserta yang hadir dalam seminar ini terdiri dari  beberapa guru Sekolah Dasar (SD) dari Trenggalek dan kepala sekolah dari daerah Tulungagung.”

Dalam penyampaiannya, Emil menekankan pentingnya peran dari para pendidik IPS untuk mewujudkan masyarakat yang berkarakter dan mampu bersaing. “ Kita takut dan merasa tak mampu untuk bersaing, apakah kita kurang pintar? Belum tentu, itu disebabkan karena karakter dan kreatifitas kita belum terbentuk secara maksimal. Disinilah peran penting dari para pendidik. Kita tidak hanya menghafal tentang teori tetapi kita sebagai pendidik harus bisa menghayati dari ilmu tersebut. supaya kita dapat memetakan apa yang ada disekitar kita untuk memecahkan masalah yang ada disekitar kita. Maka dari itu dibutuhkan inovasi dalam pedagogi bagi pendidik untuk membentuk karakter   peserta didik yang berkualitas dan mampu bersaing entah siapapun yang akan kita didik”, terang Emil. (D. Ummah_TIPS)

 

PERKUMPULAN PRODI PENDIDIKAN IPS INDONESIA: SIAP HADAPI ISU GLOBAL

seminar nasional banjarmasinSeminar nasional dan musyawarah nasional (Munas) I perkumpulan program studi pendidikan ips Indonesia telah dilaksanakan di hotel Aria Barito Banjarmasin. Acara ini diselenggarakan oleh Unversitas Lambung Mangkurat dengan Tema yang diusung adalah ”Penguatan Pendidikan Ips Dalam Menghadapi Isu-Isu Global”.

Seminar nasional dan musyawarah nasional dilaksanakan selama 2 hari tanggal 20-21 April 2018 yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) dari berbagai daerah se-Indonesia. Jum’at, 20 April 2018 pukul 08.00 WITA acara ini dimulai. Sebelum pembukaan, ditampilkan pagelaran seni khas Banjarmasin dari mahasiswa ULM untuk memperkenalkan budaya khas Banjarmasin kepada 300 peserta seminar. Selanjutnya adalah seminar nasional yang diisi oleh  3 narasumber diantaranya, prof. Dr. Nana Supriatna, M.Ed Dosen UPI, Prof. Dr. H. Bunyamin, M.Pd., MA Dosen UPI Bandung dan Prof. Dr. Suwarma Al Muchtar, SH., M.Pd. Setelah sholat jum’at tepatnya pukul 13.00 WITA dilanjutkan dengan mempresentasikan hasil karya tulis pemakalah. Kandidat dari TIPS IAIN Tulungagung adalah Ummu Sholihah, S,Pd., M.Si ketua jurusan tadris IPS dan Choiru Umatin, M.Pd Dosen Pendidikan Ekonomi Tadris IPS IAIN Tulungagung ikut andil sebagai pemakalah di acara  tersebut.

Hari kedua adalah musyawarah nasional APRIPSI yang diikuti oleh seluruh anggota MUNAS yaitu dosen pendidikan IPS se Indonesia. Adapun yang disampaikan tentang aspek keorganisasian APRIPSI, penyampaian pandangan umum Apripsi, pemilihan ketua umum dan anggota formatur dan pembagian divisi yang meliputi divisi organisasi, kurikulum, divisi penelitian, penulisan  jurnal dan buku, program kerja dan divisi pengabdian kepada masyarakat, divisi kerjasama dan luar negeri. Acara selanjutnya adalah pelantikan pengurus pusat APRIPSI yang mana ketua jurusan TIPS Ummu sholihah, s.pd., m.si dilantik sebagai sekretaris divisi kerjasama dan luar negeri dan Choiru Umatin, M.Pd dilantik sebagai editor jurnal internasional dan anggota divisi organisasi.

Ketua pelaksana seminar nasional dan musyawarah nasional I APRIPSI, Dr. Syaharudin, S.Pd., MA menyampaikan seminar dan munas I ini bertujuan membentuk perkumpulan prodi pendidikan IPS Indonesia secara hukum. Hal itu dianggap perlu karena menurut Ersa, Pendidikan IPS berguna bagi pembentukan karakter seseorang agar menjadi bangsa yang bersatu terhadap berbagai keresahan yang terjadi dimasyarakat seperti persoalan nasionalisme, kebersamaan, persatuan dan sebagainya.

Ketua prodi pendidikan IPS Ersis Warmansyah Abbas Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin ini menuturkan gagasan tersebut untuk rancangan kedepan dalam menghadapi system global saat ini, karena pendidikan IPS ditantang mampu membangun masyarakat yang memiliki kecerdasan social untuk membangun budaya dan peradaban bangsa berdasarkan pancasila dan Undang Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945. “bagaimanapun kita tidak bisa hilang dari system global, bukan hanya sekedar banjar saja atau Indonesia saja. Banjar dan Indonesia itu hanyalah identitas, tetapi kita adalah masyarakat dunia.

Jadi kedepannya pendidikan ips itu bukan pendidikan yang parsial, tetapi pendidikan yang mengglobal” tutur ketua program studi IPS ulm SERAYA MENEGASKAN acara seminar  dan munas 1 tersebut tidak ada hubungannya dengan politik. Choiru Umatin_TIPSIAINTA

KKL MAHASISWA “PENINGKATAN KOMPETENSI MAHASISWA TADRIS IPS DI BIDANG EKONOMI, SOSIOLOGI, GEOGRAFI, DAN SEJARAH MELALUI FIELD TRIP DI TULUNGAGUNG – KEDIRI”

Tulungagung -Kuliah Kerja Lapangan atau biasa yang disebut KKL telah dilaksanakan oleh mahasiswa jurusan Tadris IPS pada Rabu pagi sampai sore hari (18/04/2018). KKL ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Tadris IPS semester 2. Tercatat sebanyak 86 mahasiswa mengikuti KKL ini.

Walau ada hambatan dan sempat berganti-ganti rencana lokasi KKL, tetapi semua dapat dilalui dengan baik, hal ini bukan lain karena dukungan panitia, dukungan para dosen, dukungan ketua jurusan, dan kerjasama teman-teman mahasiswa Tadris IPS semester 2.

Berangkat pada pukul 07.00 WIB dan tiba di kota Kediri pukul 08.00 WIB. Tujuan pertama kami yaitu di Industri Kerajinan Tenun Ikat “Medali Mas” tepatnya di Desa Bandar Kidul, Kota Kediri. Disana kami mendapat arahan langsung dari Ibu Siti Ruqoyah yang merupakan pemilik Kerajinan Tenun Ikat. Kami juga dapat melihat proses pembuatan tenun ikat. Kerajinan Tenun Ikat sendiri didirikan oleh Bapak Munawar (suami Ibu Ruqoyah). Dahulu beliau bekerja di tempat orang lain, kemudian ia tekuni, hingga pada tanggal 27 Februari 1989 dapat mendirikan usaha Kerajinan Tenun Ikat dan mempunyai merk sendiri yaitu “Medali Mas”. Kemudian usaha ini terus berkembang hingga sekarang mencapai omset ratusan juta perbulan. “Omset kami kurang lebih 250 juta perbulan”, kata Ibu Ruqoyah.

Kemudian pukul 10.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke Goa Selomangleng, Kota Kediri. Menurut cerita dari pengelola Goa Selomangleng, Goa ini dahulunya dijadikan pertapaan Dewi Kilisuci yang merupakan putri mahkota Raja Erlangga. Dewi Kilisuci yang tidak menginginkan tahta kerajaan dan ingin melepaskan diri dari hal –hal duniawi, kemudian ia tapabrata di Goa Selomangleng. Saat memasuki goa kami mencium aroma dupa dan ruangan yang gelap sekali. Terdapat 3 ruang dalam goa, dan didinding goa kami melihat banyak sekali relief.

Kemudian kami berkunjung ke Museum Erlangga yang lokasinya tak jauh dari Goa Selomangleng. Museum Erlangga terdiri dari 2 bangunan, Museum Etnografi dan museum Arkeologi yang banyak menyimpan peninggalan-peninggalan purbakala. Disana kami mendapat wawasan baik dari keterangan-keterangan yang kami baca maupun dari informasi yang disampaikan oleh pengelola Museum.

Pukul 12.00 WIB kami melanjutkan pejalanan dan sholat dzuhur di Masjid Yonif 521. Kemudian kami istirahat dan makan siang di hutan Joyoboyo kota Kediri. Perjalanan kami lanjutkan ke tujuan terakhir yaitu Monumen Simpang Lima Gumul, kami tiba disana pukul 15.00 WIB. Setibanya disana kami memasuki lorong bawah tanah yang dindingnya terdapat foto-foto kegiatan dan wisata Kabupaten Tulungagung. Banyak juga masyarakat yang berkunjung untuk besantai dan foto-foto.

Selepas itu, kami pulang dan sampai di IAIN Tulungagung pukul 17.00 WIB. “Kuliah Kerja Lapangan ini selain memberi banyak manfaat tetapi juga sangat seru, semoga teman-teman semua wawasannya bertambah dan untuk KKL kedepannya dapat lebih baik”, ujar Moch. Fika Muwafiki (Ketua Panitia). (Yuni Asih_TIPS)

Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial mengadakan Diskusi Ilmiah dengan tema “Penggunaan Aplikasi Mendeley Dalam Pembuatan Karya Ilmiah”

mendelayTulungagung – Senin, 9 April 2018 Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial menggelar diskusi ilmiah untuk mahasiswa berbagai jurusan dan umum. Mulai dari jurusan tadris IPS, tadris matematika, Tadris Fisika, PIAUD, dan guru sekolah. Agenda ini dilaksanakan di lantai 6 gedung Arif Mustaqiem mulai pukul 08,00 sampai pukul 12.00. Acara tersebut mengusung tema “karya tulis ilmiah dengan aplikasi mendeley”
Acara ini dibuka langsung oleh Dr. Muniri, M.Pd selaku wakil dekan 3 FTIK IAIN Tulungagung. Beliau menyampaikan sambutannya dihadapan 220 peserta bahwa dengan berbagai aktivitas dan program tadris IPS semoga kedepan Tadris IPS semakin maju dan siap berkarya diberbagai bidang keilmuan.
Acara dilanjutkan dengan diskusi ilmiah oleh dua narasumber ahli. Narasumber pertama adalah Ibu Ummu Sholihah, S.Pd., M.Si Ketua Jurusan Tadris IPS Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung. Beliau menyampaikan tentang “pengantar awal berupa definisi dari karya ilmiah itu sendiri, selain itu juga dijelaskan kaitannya dengan klasifikasi karangan, prinsip-prinsip umum penulisan sebuah karya ilmiah, ciri-ciri karya ilmiah, tujuan pembuatan karangan ilmiah itu sendiri, jenis-jenis karya ilmiah dan yang terakhir proses menulis karya ilmiah”. Beliau menggaris bawahi tentang pentingnya karya ilmiah bagi mahasiswa sejak dini.

Narasumber kedua adalah Beni Asyhar, S.Si., M.Pd. dosen Tadris Matematika Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung menyampaikan mengenai “pengantar awal kaitannya dengan aplikasi mendeley sendiri, dimana mendeley adalah sebuah perangkat lunak yang diilhami oleh sebuah upaya untuk mengintegrasikan “cititation dan reference manager” kedalam sebuah jejaring sosial. Selain itu beliau juga menjelaskan bahwa mendeley dapat diaplikasikan pada MS Windows, dapat menampilkan metadata dari sebuah file PDF secara otomatis, dapat membackup dan sinkronisasi data dari beberapa komputer dengan akun online, smart filtering dan tagging, impor dokumen dari makalah penelitian dari situs-situs eksternal, fitur jejaring sosial, iPhone maupun iPad app”.
Peserta diskusi ilmiah sangat antusias dalam mengikuti acara dari awal hingga akhir. Hal ini terbukti dengan banyaknya jumlah peserta yang hadir dari berbagai jurusan di IAIN Tulungagung. Acara inipun juga dimeriahkan dengan menampilkan grup sholawat jauharul qalbi tadris ilmu pengetahuan sosial yang diikuti oleh mahasiswa jurusan tadris IPS. selain itu ketika ada pergantian narasumber, panitia siap dengan lantunan lagu lagu yang dibawakan oleh dosen dan mahasiswa tadris IPS sehingga acara selalu Nampak hidup dan mengalir.

Ketua Pelaksana diskusi ilmiah, Eki Kurnia Shandy, mengungkapkan bahwa acara ini adalah inisiatif ketua jurusan dan himpunan mahasiswa jurusan tadris IPS mengingat minimnya karya ilmiah mahasiswa sedangkan mahasiswa dituntut sebagai agent of change dan agent of development.
Argument tentang aplikasi mendeley, saat ini sitasi dapat dilakukan secara otomatis menggunakan software pengelola referensi dari yang berlayar sampai yang gratis untuk digunakan. Software pengelola referensi yang paling dikenal di Indonesia adalah aplikasi EndNote dan Mendeley. Mendeley mempunyai kelebihan dibandingkan EndNote karena dapat di download secara gratis. Kentungan mendeley sebagai software pengelola referensi ini sangat kompatibel dengan program pengolah kata Microsoft Word, Mac Word, dll. Mendeley sangat mudah dalam instansi dan penggunaannya. Dapat membuat sitasi otomatis, membuat daftar sitasi otomatis, dapat mengurutkan daftar pustaka sesuai urutan sitasi, dan masih banyak kelebihan yang lainnya. Software mendeley ini seharusnya dipublikasikan melalui sosialisasi ataupun diskusi ilmiah oleh lembaga pendidikan sekolah maupun perguruan tinggi. Sehingga kekeliruan dalam membuat sitasi atau kutipan dan daftar pustaka dari karya orang lain bisa dikurangi serta tindakan plagiarisme yang sengaja maupun tidak sengaja dapat dihindari.

Berdasarkan argumen tersebut, Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial muncul ide untuk mendatangkan ahli aplikasi mendeley yang memaparkan secara konseptual dan juga praktik. Peserta yang hadir diwajibkan membawa laptop untuk memperlancar proses pemahaman. Acara ini mengharapkan nantinya mahasiswa tidak ragu ragu lagi dan termotivasi dalam membuat karya ilmiah setelah memperoleh ilmu dalam diskusi ilmiah ini. (Eki Kurnia Shandy_TIPS)

Mahasiswa Tadris IPS IAIN Tulungagung Menjadi Pengurus Aliansi Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial se-Indonesia (ALMAPIPSI)

almapipsiAliansi Mahasiswa Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial se-Indonesia (ALMAPIPSI) menggelar agenda Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) dan Seminar Nasional. Agenda ini dilaksanakan di Gedung Kuliah Terpadu IAIN Jember selama tiga hari sejak tanggal 29-31 Maret 2018. Acara yang mengusung tema “Pemuda dan Sejarah Indonesia dalam Perspektif Politik, Pendidikan dan Sosial Ekonomi” dihadiri oleh 15 perguruan tinggi diantaranya : IAIN Tulungagung, IAIN Ponorogo, Universitas Negeri Malang, UIN Maliki Malang, Universitas Raden Rahmat, STAIN Pamekasan, Universitas Tanjungpura, IAIN Jember, Universitas Negeri Jakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Metro Lampung, IAIN Cirebon, Unnes, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Unesa.

Acara ini dibuka langsung oleh dekan FTIK IAIN Jember, dalam sambutannya berpesan agar gerak langkah aktivis harus digalakkan dan dimasifkan. “Ikatan nasional ini harus dijaga kesatuannya agar dapat memberikan sumbangsih kepada negeri tercinta,” ujar dekan FTIK ini. Acara ini diawali dengan pelantikan pengurus ALMAPIPSI periode 2017-2018. Tiga Kandidat yang dikirim dari Tadris IPS IAIN Tulungagung masuk dalam deretan nama pengurus pusat ALMAPIPSI, yaitu Harun sebagai Ketua Umum ALMAPIPSI, Whira Khukmatul Ummah sebagai sekretaris, Estu Nur Widyaswara sebagai bendahara dan Moch Irfan Wahyu Prayoga sebagai BLO (Badan Legislatif Organisasi)

Acara selanjutnya adalah Seminar Nasional dengan tiga pembicara. Pembicara pertama adalah Prof. Dr. Bambang Soepeno, M.Pd Guru Besar Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jember yang menyampaikan tentang “Pemuda dan Sejarah Indonesia”. Pembicara kedua adalah Fauzan Adhim, M.Pd.I dosen Staifas menyampaikan mengenai “Pemuda dalam Aspek Politik dan Pendidikan”. Pembicara ketiga adalah Muhammad Muwafik, S.Pd.I.,MA dosen Universitas Negeri Jember menyampaikan “Pemuda dalam Aspek Sosial dan Ekonomi”. Antusias peserta seminar sangat tinggi dalam mengikuti acara ini, terbukti dengan banyaknya peserta Pendidikan IPS yang datang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Ketua Pelaksana Rakernas kali ini, Junaidi mengungkapkan bahwa pelantikan ini adalah awal dari kinerja Almapipsi untuk satu periode kedepan. “Ini bukanlah tujuan, melainkan awal dari eksistensi lembaga Almapipsi yang insyaAllah akan menjadi barometer organisasi lain di Indonesia dan mampu mewadahi seluruh mahasiswa pendidikan IPS diseluruh Indonesia”.

Sementara itu, Ketua Umum ALMAPIPSI Harun mahasiswa Semester VI Tadris IPS IAIN Tulungagung menyampaikan bahwa kegiatan RAKERNAS kali ini menghasilkan beberapa program kerja yang akan dilaksanakan oleh pengurus pusat, wilayah ataupun daerah. “Setelah diadakannya Rakernas diharapkan kinerja organisasi kedepan semakin terarah. Namun hal ini juga harus dibarengi dengan komunikasi, koordinasi dan kerjasama yang aktif setiap pihak yang berkontribusi di ALMAPIPSI. Aksi nyata sebagai implementasi dari agenda ini akan ditindaklanjuti dalam waktu dekat,” ungkap ketua umum ALMAPIPSI. (Harun_TIPS)

KKL MAHASISWA TADRIS IPS FTIK IAIN TULUNGAGUNG “GEOHISTORY”

JOGJA

Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung mengadakan Kuliah Kerja Lapangan atau KKL yang bertempat di Yogyakarta, Jawa Tengah. Sejumlah 24 mahasiswa dan 4 dosen Tadris IPS pertamanya di Masjid Keraton Yogyakarta, Museum kraton, Mesum Merapi, Meseum Geo Spasial, Pantai Parang Tritis, Malioboro dan Candi Sambisari. Tema yang diusung KKL kali ini adalah “Geo History” karna berdasarkan kajiannya, untuk mengetahui lebih mendalam terhadap kajian mata kuliah sejarah kebudayaan, pengetahuan peta dan geohistory. Acara ini dilaksanakan sebagai bentuk implementasi untuk menemukan berbagai pengalaman yang baru sebagai media penunjang disiplin ilmu IPS sendiri. KKL kali ini didampingi oleh 4 dosen disiplin ilmu yang berbeda, diantaranya Choiru Umatin, M.Pd adalah dosen dengan bidang keahlian pendidikan ekonomi, Anggoro Putranto M. Sc adalah dosen dengan bidang keahlian geografi, Hany Nurpratiwi M. Pd adalah dosen dengan bidang keahlian pendidikan sejarah dan Bagus Setiawan M. Pd adalah dosen dengan bidang keahlian Pendidikan IPS.

Pada pukul 04.00 WIB tida di Parkiran Keraton Yogyakarta. Kemudian peserta beranjak menuju ke tempat Masjid di sekitar Keraton untuk melaksanakan Sholat Shubuh serta mandi, makan dan istirahat di pekarangan tersebut. Pada Pukul 07.00 WIB sampai 10.00 WIB peserta berangkat bersama-sama ke museum Keraton Yogyakarta. Sebelum ke gerbong pintu masuk, Bu hany Nurpatiwi M. Pd selaku dosen mata kuliah sejarah kebudayaan menjelaskan mengenai tugas yang perlu di perdalam yakni tugas resume mengenai Keraton Yogyakarta. Sejumlah 24 mahasiswa sangat berantusias dalam melaksanakan tugas tersebut dan mempelajari terkait museum Keraton Yogyakarta baik dari segi filosofis, politis, historis dan ekonomis. Hikmah yang dapat diambil dari Meseum Yogyakarta akan menumbuh kembangkan budaya setempat untuk di aktualisasikan kepada daerahnya masing-masing bahwa selama ini kita sering sekali melihat budaya yang tergerus oleh perkembangan zaman, maka jawabannya adalah di mesuem keraton yogyakarta dari tahun ke tahun masih berkembang dan selalu menjaga kesucian untuk memiliki kepedulian yang totalitas untuk perkembangan mesuem tersebut.

Pukul 10.00 sampai 13.00 rombongan berangkat menuju museum Merapi yang bertempat di Jalan Kaliurang Km. 22, Banteng, Hargobinangun, Kabupaten Sleman. Museum merapi ini sangat menarik pula untuk sebagai literasi geografi karna didalam meseum tersebut terdapat keilmuan yang lebih terklasifikasi. Misalnya sejarah gunung merapi, tipe-tipe gunung, runtutan kejadian pra dan pasca meletus gunung berapi dan seterusnya. Sebelum menuju ke pintu masuk, Bapak Bagus Setiawan, M. Pd selaku dosen mata kuliah geohistory, menjelaskan ketentuan tugas mata kuliah tersebut yang didalamnya terlampir beberapa instrumen pertanyaan yang ditujukan kepada pihak museum gunung merapi. Hal ini membuat mahasiswa yang sedang melakukan KKL sepenuhnya untuk mengetahui beberapa hal yang perlu diperkaya khasanah keilmuannya untuk keabsahan intsrumen tersebut.

Setelah ke museum Merapi dirasa sudah selesai, rombongan beranjak ke Rumah Mbah Marijan yang bertempat di Kali Jodo. Pukul 15.00 WIB sudah sampai di area parkiran Mbah Marijan, ada sebuah kendala yang menghambat untuk ke kediaman mbah marijan karena faktor biaya, aksesbilitas dan medan yang kurang mendukung. Atas beberapa pertimbangan tersebut, akhirnya kesepakatannya tidak jadi melakukan observasi di kediaman mbah marijan meski sedikit kecil hati tapi keselamatan lebih utama dari pada terlalu memaksa dengan keadaan yang tidak mendukung.

Pukul 16.30 WIB, di sekitar jalan menuju Yogkarta kami mampir sebentar untuk makan di depot Rumah Makan. Peserta KKL turun ke bus untuk melaksanakan makan sore dan setelah itu sholat dhuhur. Setelah beranjak ke rumah makan rombongan berangkat lagi menuju tempat penginapan di sekitar Malioboro, Yogyakarta. Pukul 17.30 peserta KKL sudah tiba di tempat penginapan untuk menginstirahatkan badan, makan dll. Agenda malam yang sangat spesial untuk malamnya yakni melakukan kunjungan Ke Malioboro. Pukul 19.30 WIB rombongan sudah tiba di Malioboro untuk membeli oleh-oleh Khas Jogja baik pakaian, makanan dan seterusnya. Agenda kali ini sangat menarik karna bersifat hiburan peserta KKL pun banyak yang melakukan rutinitasnya untuk berdiskusi di tempat tersebut, ada yang membeli oleh-oleh dan menikmati kota yang katanya identik dengan “Jogja Istimewa”. Pukul 22.00 WIB dirasa sudah cukup ke tempat malioboro peserta KKL langsung menuju ke tempat Penginapan.

Keesokan harinya pukul 08.00 WIB peserta KKL beranjak ke Geospasial untuk melakukan pengkajian mengenai pengetahuan peta, tekstur air laut, kadar garam air laut dan lain sebagainya. Peserta sangat berantusias dalam memperdalam kaitannya dengan pengetahuan peta yang memang itu sangat menunjang sekali dengan mata kuliah pengetahuan peta. Setelah agenda tersebut selesai, peserta melanjutkan kembali ke Pantai Parangritis pukul 10.00 sampai 11.00 WIB peserta KKL begitu cerianya melihat pemandangan pantai tersebut. Seketika dirasa sudah cukup kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan ke Masjid untuk menunaikan Sholat Jum’at.

Candi Sambisari sebagai destinasi terakhir KKL Jogja Kali ini yang bertempat di Jalan Candi Sambisari, Puwomartani, Kalasan, Kabupaten Sleman, DIY. Candi Sambisari merupakan sebuah candi Hindu (Siwa) yang dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Peserta KKL dapat wawasan kesejarahan dan pesona candi yang begitu menarik untuk disinggahi. Setelah selesai di candi Sambisari rombongan beranjak pulang ke Tulungagung.

Oleh karena itu, KKL pada kali ini sangat memberikan refrensi yang luar biasa demi menguakan nilai-nilai kebudayaan, kepariwisataan dan kesejarahan. Harapan dari diadakannya KKL kali ini semoga kedepan jurusan Tadris IPS bisa melahirkan tokoh-tokoh yang tidak hanya konsentrasi dibidang pendidikan saja melainkan multitalenta atau mahir dibidang apapun.

KKL MAHASISWA “Sinergi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial antara Konsep dan Praktik”

MOJOKERTO
Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung mengadakan Kuliah Kerja lapangan DI Mojokerto. Sejumlah 50 mahasiswa mengadakan KKL kedua di Daerah kabupaten Mojokerto Tema yang diusung KKL kali ini adalah ” Sinergi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial antara Konsep dan Praktik”. Acara ini dilaksanakan di beberapa tempat di Kabupaten Mojokerto. KKL kali ini didampingi oleh 3 dosen dengan disiplin ilmu yang berbeda, diantaranya Choiru Umatin, M.Pd adalah dosen dengan bidang keahlian pendidikan ekonomi, Nur Isroatul Husna, M.Pd adalah dosen dengan bidang keahlian Pendidikan Sosiologi dan Hani Nur Pratiwi, M,Pd adalah dosen dengan bidang keahlian pendidikan sejarah.
Tepat pada hari senin, tanggal 20 November 2017, Angkatan 2016 Jurusan Tadris Imu Pengetahuan Sosial yang terdiri dari 2 kelas antara kelas A dan B Stand by di kampus untuk persiapan berangkat ke Mojokerto pada pukul 04:30 pagi. Perjalan dari Tulungagung-Mojokerto menempuh perjalanan sekitar 4 jam. Dengan tujuan pertama adalah wana wisata padusan yang terletak dikawasan pacet untuk melakukan observasi berkaitan dengan Geografi Regionl dengan dosen pembimbing yaitu Ibu Nur Isroatul Khusna, M.Pd,
Dalam Observasi di kawasan pacet kita mencari tahu tentang bagaimana kondisi iklim, ketiggian daerah, jenis Flora dan Fauna yang terdapat di Daerah setempat, keadaan hidrologi, keadaan topografi dan geologi. Dan hal yang paling menarik adalah suhu air yang terdapat dalam beberapa kolam di padusan pacet, terdapat beberapa kolam dengan suhu yang berbeda dan semakin rendah letak kolam maka semakin panas suhu air tersebut, hal ini disebabkan oleh energi geofermal atau panas bumi yang kemudian bertemu dengan jalur celah mata air yang keluar ke permukaan bumi sehingga mata air yang keluar itu panas.dengan keadaan tersebut oleh masyrakat dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata buatan yang mengandalkan potensi alam.
Tepat pukul jam 13:00 setelah ishoma, perjalanan kami lanjutkan ke daerah trowulan untuk ziarah kemakam yang ada diaerah trowulan, makam Troloyo tepatnya. Dengan dosen pemimbing Iu Choiru Ummatin, M.Pd. dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana keadaan ekonomi di daerah tersebut ketika makam Troloyo jarang di kunjungi dan setelah di kunjungi. Dari hasil observasi dapat disimpulkan bahwa keadaan ekonomi setelah Makam troloyo banyak didatangi masyarakat memiliki berbagai macam pekerjaan, diantara, membuka warung dengan khas oleh-oleh trowulan, menjadi tukang ojek antara jarak parkir bus dan makam, dan juga banyak yang lainnya.
Perjalanan selanjutnya pada jam 15:30 kami menuju MuseumTrowulan dengan bimbingan Bu Hany Nur Pratiwi, M.Pd selaku dosen pembelajaran sejarah lokal. Museum Trowulan Museum Trowulan adalah museum arkeologi yang terletak di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Indonesia. Museum ini dibangun untuk menyimpan berbagai artefak dan temuan arkeologi yang ditemukan di sekitar Trowulan. Tempat ini adalah salah satu lokasi bersejarah terpenting di Indonesia yang berkaitan dengan sejarah kerajaan Majapahit.
Kebanyakan dari koleksi museum ini berasal dari masa kerajaan Majapahit, akan tetapi koleksinya juga mencakup berbagai era sejarah di Jawa Timur, seperti masa kerajaan Kahuripan, Kediri, dan Singhasari. Museum ini terletak di tepi barat kolam Segaran. Museum Trowulan adalah museum yang memiliki koleksi relik yang berasal dari masa Majapahit terlengkap di Indonesia. Setelah observasi dari Museum Trowulan tepat sekitar 18:00 kami melanjutkan perjalanan pulang.
Dengan adanya KKL tersebut mahasiswa bisa menyeimbangkan antara konsep pembelajaran di dalam kelas dengan pembelajara di lapangan, karena sifat Ilmu Pengetahun Sosial adalah bersifat Empirik yaitu segala sesuatu didasarkan pada observasi (pengamatan) terhadap kenyataan sosial. Dan juga bersifat teoritis artinya ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha menyususn abstraksi dari hasil-hasil observasi. (Inayatul Maula_TIPS)