DIES NATALIS KE-3 TADRIS BIOLOGI

Tidak terasa usia jurusan Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung telah memasuki tahun ke-3. Usia yang masih muda ini tentunya merupakan usia yang masih harus penuh perjuangan. Namun demikian, meskipun masih muda, jurusan TBIO FTIK IAIN Tulungagung telah cukup banyak menorehkan prestasi. Mahasiswa-mahasiswa yang kreatif dan inovatif merupakan ujung tombak bagi jurusan demi kemajuan TBIO.

Dalam rangka memperingati tahun ke-3 lahirnya jurusan TBIO, sejak tanggal 28 April 2018, sekaligus bertepatan dengan hari Bumi, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) TBIO melakukan penanaman pohon di lereng gunung Budeg yang berada di kecamatan Boyolangu kabupaten Tulungagung. Didampingi oleh Bapak/Ibu dosen dan pedamping dari pihak gunung Budeg, alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan sukses.

gunung budeg 1        gunung budeg 2

 gunung budeg 3

Pada hari Senin (07/05/2018), berkolaborasi dengan Puskesmas Kedungwaru, HMJ TBIO mengadakan suntik difteri bagi seluruh mahasiswa IAIN Tulungagung yang belum melakukan suntik difteri di gedung aula utama IAIN Tulungagung. Selanjutnya, pada hari Selasa s/d Kamis (08 s/d 10 Mei 2018), HMJ TBIO secara resmi mengadakan serangkaian kegiatan dalam rangka Dies Natalis ke-3 TBIO dengan tema “The Next Young Generation Creative and Culture Center”. Sesuai dengan tema yang diangkat, jurusan TBIO berharap mahasiswa TBIO FTIK IAIN Tulungagung menjadi generasi muda yang kreatif dan inovatif, dalam arti bahwa mereka harus mempunyai pemikiran sebagai “pencetak kerja” bukan sebagai pekerja. Dengan demikian karya-karya kreatif mereka akan terlahir. Oleh karena itu, berbagai kegiatan yang mendukung kreatifitas mahasiswa diadakan untuk memperingati tahun ke-3 kelahiran jurusan TBIO ini. Kegiatan tersebut antara lain seminar hidroponik, lomba teknologi tepat guna, lomba penulisan artikel ilmiah dan lomba product fashion dari bahan bekas.

Hari Selasa (08/05/2016), pembukaan Dies Natalis ke-3 jurusan TBIO dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan bagian Akademik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung, Dr. Fathul Mujib, M.Ag. Kemudian acara dilanjutkan dengan Seminar Hidroponik dengan narasumber Bp. Wahyudi, S.TP. dari Pojok Hidroponik Tulungagung. Acara seminar ini diakhiri dengan pemberian cindera mata dari Kajur TBIO, Dr. Eni Setyowati, S.Pd., MM kepada narasumber. Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa TBIO mempunyai keahlian di bidang hidroponik sekaligus dapat menjadi wirausahawan di bidang hidroponik. Apalagi di Kabupaten Tulungagung, merupakan kota yang sangat kekurangan akan produk hidroponik, sementara permintaan pasar akan produk hidroponik sangat besar. Hal ini merupakan peluang yang baik bagi mahasiswa TBIO.

pembukaan dies natalis

seminar hidroponik      penyerahan kenang kenangan

Pada hari Rabu (09/05/2018), dilaksanakan lomba teknologi tepat guna (TTG). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan tiap kelas. Setiap kelas wajib mengirimkan wakilnya minimal satu perwakilan/tim. Setiap tim terdiri dari dua orang. Sebagai dewan juri dalam lomba TTG ini adalah Nanang Purwanto, M.Pd., M. Lukman Abbas, M.Pd. dan Gaguk Resbianto, S.Si., M.Pd.

ttg 1  ttg 2  ttg 3

ttg 4    ttg 5

Selanjutnya, pada hari Kamis (10/05/2018), sebagai puncak acara adalah lomba product fashion yang dimulai pukul 14.00 WIB sampai dengan 16.30 WIB. Lomba ini menampilkan kreatifitas perwakilan kelas dalam membuat produk untuk fashion yang berasal dari bahan bekas. Pada umumnya mahasiswa membuat produk dompet, tas, bunga, dan pernak pernik baik dari koran bekas, tas kresek, bekas gelas air mineral, kain perca, bekas kalep jok motor dan lain-lain. Produk-produk ini kemudian ditampilkan melalui penampilan fashion yang diperagakan oleh para model dari perwakilan kelas, sementara desainer dari produk tersebut memaparkan hasil rancangannya dan dinilai oleh tim dewan juri. Tim dewan juri lomba ini adalah Haslinda Yasti Agustin, M.Si., Desi Kartikasari, M.Si., dan Choiru Ummatin, M.Pd. Acara diikuti oleh 11 peserta yang terdiri 9 peserta dari jurusan TBIO, 1 peserta dari jurusan Tadris Bahasa Indonesia dan 1 peserta dari Fakultas Ushuludin, Adab dan Dakwah.

fashion-1   produk fashion bersama

Sebagai acara puncak adalah pentas seni dan pengumuman juara, yang dimulai pukul 19.00 WIB sampai dengan pukul 22.30 WIB. Acara ini dimeriahkan pula oleh IVO (IAIN Voice), marching band dan seni musik “Galung Percussion New Esreng” dari Blitar. Alhamdulilah….serangkaian acara dalam rangka Dies Natalis ke-3 jurusan Tadris Biologi Fakultas Tarbiyah IAIN Tulungagung berjalan dengan lancar dan sukses, semoga membawa manfaat bagi jurusan, fakultas dan IAIN Tulungagung. Aamiin. Selamat kepada para juara dan selamat untuk Tadris Biologi. Salam lestari, Salam konservasi.(Adm/TBIO)

pentas seni 1        pentas seni 2

 pentas seni 3    pentas seni 4  

para juara

      penutup

EKSISTENSI IPUSNAS MENDONGKRAK LITERASI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh

Beta Larasati 

Eka Suciati Pratiwi

M. Wildana Fikria Z

(Finalis Lomba Debat dengan Tema “Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia Untuk Mengatasi Degradasi Moral di Era Distrubsi” di Universitas Negeri Semarang)

I. PENDAHULUAN

Perkembangan dunia perpustakaan saat ini tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi informasi sebagai sarana pendukung perkembangan perpustakaan. Penggunaan teknologi informasi di perpustakaan bertujuan untuk memberikan kemudahan akses dan meningkatkan efisiensi pekerjaan serta kualitas pelayanan pada pengguna. Perpustakaan sebagai pusat informasi semakin dituntut untuk memberikan layanan informasi yang lebih baik dan tepat guna, sehingga dapat menarik perhatian pemustaka dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda seperti anak-anak, pelajar, mahasiswa, dosen, peneliti, dan sebagainya. Begitu juga dengan perpustakaan sekolah, sebagai jantung sekolah, perpustakaan harus bisa dan tetap menunjukkan eksistensinya dalam memenuhi kebutuhan informasi para siswa dan guru di sekolah tersebut.

Salah satu jenis perpustakaan yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan pelayanannya adalah jenis perpustakaan digital. Menurut Ismail Fahmi (2004), perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang terdiri dari perangkat hardware dan software, koleksi elektronik, staf pengelola, pengguna, organisasi, mekanisme kerja, serta layanan dengan memanfaatkan berbagai jenis teknologi informasi. Dengan sistem digital ini suatu perpustakaan mempunyai kelebihan dalam menghemat ruangan, akses ganda dalam menggunakan koleksi, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, koleksi dapat berbentuk multimedia dan biaya akan lebih murah. Dengan adanya iPusnas tentu bisa memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia.

Rendahnya minat baca di Indonesia tercermin dari beberapa fakta yang memuat tentang prestasi bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, antara lain; Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel. Kenyataan yang muncul saat ini adalah anak-anak lebih senang mengisi waktu mereka dengan permainan-permainan digital mereka. Banyak juga anak-anak yang tak sadar rela menghabiskan waktu mereka berjam-jam dengan media sosial mereka dibandingkan membaca, sedangkan meluangkan waktu untuk membaca sangat sulit. Pentingnya kemampuan literasi dini dan minat baca bagi seorang anak yang akan membantunya menghadapi dan menjalani pendidikannya di masa yang akan datang.

Artinya perlu ada perhatian lebih pada masalah ini agar kita betul-betul bisa menciptakan generasi yang berkualitas.

 

II. PEMBAHASAN

Perpustakaan digital merupakan salah satu teknologi informasi untuk sarana penyimpanan, mendapatkan, dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan melalui format digital. Banyak sekali manfaat dari perpustakaan digital ini dibanding perpustakaan konvensional yaitu; lebih menghemat ruangan, akses ganda (multiple access), tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, biaya untuk dokumen digital lebih murah, koleksinya tidak hanya berbentuk teks atau gambar saja, melainkan multimedia dengan kombinasi teks gambar dan suara.

Ada salah satu terobosan terbaru dari Perpustakaan Nasional yang ditampilkan dalam sebuah aplikasi, sehingga dapat didownload di smartphone, android, maupun iOS, tablet, dan komputer PC. Kita dapat dengan mudah menggunakannya sebagai perpustakaan berjalan. Karena dengan adanya iPusnas, kita dapat lebih mudah menggunakan sebagai pencarian dan peminjaman buku secara online di mana saja kita berada. Selain itu juga, aplikasi ini dilengkapi berbagai fitur sosial media yang dapat menghubungkan pembaca satu dengan pembaca lain, bisa saling memfollow, merekomendasikan buku bagus dan lain sebagainya.

iPusnas selain merupakan aplikasi perpustakaan digital (ePustaka), dia memiliki berbagai kelebihan diantaranya; dilengkapi dengan eReader yang digunakan untuk membaca eBook dan fitur social media. Terdapat katalog online yang dapat digunakan sebagai meminjam buku di dalamnya seperti di perpustakaan biasanya dengan jangka waktu pinjam maksimal tiga hari. Setelah itu akan kembali atau menghilang secara otomatis ke ePustaka iPusnas. Apabila kita belum selesai membacanya, kita dapat memperpanjang waktu peminjaman dengan mengisi form peminjaman kembali. Selain itu, iPusnas juga menyertakan rak buku virtual yang berisikan daftar buku peminjaman pengguna. Oleh karena itu, kita akan tahu mengenai riwayat peminjaman buku yang memudahkan kita untuk meminjam ulang buku. Adanya berbagai fitur koleksi buku, memudahkan pembaca mengakses 20 ribu judul buku. Baik dari genre fiksi, agama, anak, bisnis dan ekonomi, humaniora, pendidikan, teknologi, dan masih banyak lagi lainnya. Dengan adanya itu semua, diharapkan dapat membangun kembali literasi anak bangsa yang mulai luntur.

Pendidikan dan kemampuan literasi adalah dua hal yang sangat penting dalam hidup kita. Kemajuan suatu negara secara langsung tergantung pada tingkat melek huruf di negara tersebut. Orang berpendidikan diharapkan untuk melakukan tugasnya dengan baik.Secara historis, Menurut Prof. Dr. Tarwotjo M.Sc sebagaimana dikutip oleh Asul Wiyanto dalam pengantar bukunya yang berjudul “Terampil Menulis Paragraf”, produk dari aktivitas Literasi berupa tulisan, adalah sebuah warisan intelektual yang tidak akan kita temukan di zaman prasejarah. Dengan kata lain, apabila tidak ada tulisan, sama saja kita berada di zaman prasejarah. Tulisan merupakan bentuk rekaman sejarah yang dapat diwariskan dari generari ke generasi, bahkan hingga berabad-abad lamanya.

Dalam dunia pendidikan khususnya, tulisan mutlak diperlukan. Buku-buku pelajaran maupun buku bacaan yang lainnya merupakan sarana untuk belajar para peserta didik di lembaga-lembaga sekolah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tanpa tulisan dan membaca, proses transformasi ilmu pengetahuan tidak akan bisa berjalan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tulisan, budaya membaca, serta menulis di kalangan masyarakat. Oleh karenanya, kita harus terus berupaya mendorong serta membimbing para generasi muda termasuk pelajar dan mahasiswa untuk membudayakan kegiatan Literasi.

Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Melihat begitu rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia tentu ini akan berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang tahun ini akan menghadapi MEA (Mayarakat Ekonomi Asean) sehingga masyarakat Indonesia akan sangat sulit untuk bisa bersaing dengan masyarakat dari negara lain di Asean. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia biasa kita mulai dari sekolah, yang mana sekolah itu merupakan tempat/lembaga yang dirancang untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa yang tentunya kegiatan itu tidak terlepas dari aktifitas membaca. Maka dari sinilah pentingnya mengembangkan budaya membaca di sekolah.

Selain tingkat kesadaran membaca dan menulis masyarakat Indonesia yang masih rendah, ada pula faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan budaya literasi sulit dikembangkan di Indonesia, salah satunya yaitu masyarakat Indonesia lebih suka melakukan cara-cara yang praktis dan cepat untuk mendapatkan informasi dari pada membaca untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru. Menurut data BPS (2006), bahwa masyarakat Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari jumlah total penduduk Indonesia, sedangkan masyarakat yang gemar menonton televisi sebanyak 85,9 persen, dan yang gemar mendengarkan radio 40,3 persen. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung lebih suka mendapatkan informasi dari media elektronik terutama televisi, sehingga penonton hanya sebagai pelaku pasif. Sebab, hanya dengan menonton televisi sambil duduk dengan santai dan tenang serta melihat dan mendengarkan, mereka telah mendapatkan informasi tanpa harus bersusah payah dan menghabiskan waktu untuk membaca sebuah koran atau buku demi mendapatkan informasi tersebut. Keadaan seperti inilah yang nantinya dapat mengkikis budaya literasi di negara kita.

Mengingat mutu pendidikan di Indonesia saat ini khususnya dilihat dari segi literasi masih kurang. Jadi dengan adanya iPusnas secara langsung mampu meningkatkan minat baca disemua kalangan. Khususnya dalam bidang pendidikan dapat lebih baik dari sebelumnya. Dengan berbagai fitur yang menarik para pennguna dapat memperoleh akses informasi terbaru.

 

III. PENUTUP

Keberadaan iPusnas merupakan suatu usaha yang dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik dalam memperoleh pengetahuan secara teknologi. Kualitas atau mutu pendidikan tidak bisa diperoleh dengan instan. Dalam memperoleh sebuah kualitas pendidikan diperlukan perencanaan yang matang terlebih dahulu. Implementasi program perpustakaan digital terhadap kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam upaya pencapaian tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran yang dirumuskan dengan baik dan benar, selayaknya diupayakan pencapaiannya secara maksimal. Pemaksimalan pencapaian tujuan pengajaran tersebut dapat dilakukan antara lain dengan penyediaan dan pelayanan perpustakaan yang memadai. Dengan adanya pengelolaan perpustakaan digital yang lebih maju akan membantu siswa dalam pengaksesan sumber buku yang dicari dengan mudah, sehingga siswa dapat memenuhi keinginanya dengan cepat dan mudah.

 

IV. DAFTAR RUJUKAN

Ishak. 2008. Pengelolaan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi. Laporan Hasil Penelitian Universitas Sumatera Utara, dimuat dalam Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2 Desember 2008. Fakultas Sastra USU

Sugiharto. 2011. Perpustakaan Digital: Suatu Wacana Mengembangkan Perpustakaan Masa Depan        di               Indonesia.             Diakses     dari     http://www.pdii.lipi.go.id/read/data/2011/09/Sugiharto-PerpustakaanDigital.pdf. Pada tanggal 13 April 2018, Jam 20.30 WIB.

Rubiatul. 2012. Manajemen Perpustakaan Berbasis Digital dalam Upaya Membangun Kualitas Sekolah . Diakses dari https://manajemendigilib.wordpress.com/2012/04/10/manajemenperpustakaan berbasis-digital-dalam-upaya-membangun-kualitas-sekolah/. Pada tanggal 11 April, Jam 21.00 WIB.

PERGAULAN SEBAGAI CETAKAN KARAKTER ANAK (tulisan ini telah diikutsertakan dalam lomba essay acara harlah PAI)

Oleh:

Ani Hidayatul Munawaroh

Mahasiswa Jurusan Tadris Biologi, FTIK-IAIN Tulungagung

Anialanza@gmail.com

Abstrak

Tragedi yang terjadi di sektar ini tidak bisa dilepaskan dari pergaulan. Jika pergaulan baik maka jiwa yang terbentuk di dalamnya akan baik pula, dan sebaliknya. Maka pembentukan karakter melalui pergaulan sangat disarankan, dilihat dari sisi kedekatan fisik mereka ada di mana. Selayaknya bau parfum yang harum akan menyebar ke ruangan, begitu juga dengan pergaulan, ibarat parfum yang mampu menghipnotis orang yang ada di dalamnya, entah itu harum ataupun berbau busuk. Karena sejati pergaulan akan menular, itulah yang bisa dinamakan “Sayat-Sayat Pergaulan”. Sangat dianjurkan lingkungan yang islami menjadi tonggak awal si anak dalam menatap dunia luar. Jiwanya akan lebih tertata dan pengetahuannya akan lebih terasah kembali. Tidak hanya itu, dengan membudayakan anak sering membaca, dan berkreatifitas juga membantu untuk tidak terjerumus ke pergaulan tidak sehat.

Kata kunci: Pergaulan, karakter, anak

Pioner-pioner hebat sekarang adalah anak kecil polos di masanya. Bahkan orang-orang yang berada di jeruji besi sekarang ini juga pernah melalui masa polos dengan penuh tanda tanya dalam hidupnya. “Pendidikan adalah tiket ke masa depan, hari esok dimiliki oleh orang-orang yang memersiapkan dirinya sejak hari ini,” begitulah kalimat yang telah diucapkan oleh Malcom X. Maksud dari ‘sejak hari ini’ adalah sejak dini, alias waktu kecil. Anak-anak adalah peniru yang baik, maka apa yang mereka lihat, dengarkan, dan rasakan bisa dengan mudah ditiru bahkan jika itu berlangsung mengakibatkan “kebiasaan”. Itulah yang disebut sebagai “Sayat-sayat pergaulan” di mana pergaulan memimpin di depan dalam pembentukan karakter anak sejak ia masih kecil. Lebih baik orang terdekat mengetahui apa yang dilihat anak, apa yang disukai anak, dan apa yang menjadi tren sekarang supaya apa yang dijadikan materi nasehat kepada anak bisa membekas.

Teladan yang baik adalah teladan yang bisa membentuk karakter yang baik pula. Lebih baik lagi jika teladan itu muncul di mana ia berada, jadi ketika anak tersebut sudah mampu pergi menatap dunia, ia akan mudah untuk memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Penanaman akhlakul karimah adalah tangga utama untuk pembentukan generasi yang berkualitas tinggi dibanding mengajarkan mereka hitung-hitungan. Pengelolaan angka semacam ini seharusnya dinomorduakan agar anak mengerti dahulu bagaimana bersikap dan berperilaku yang baik, baik untuk dirinya maupun orang di sekitarnya, sehingga bisa menjadikan ia sebagai seseorang yang bermanfaat. Penanaman ini bisa dimulai dengan pembiasaan dini tentang belajar agama, mengaji, dan dinasehati. Terkadang ironi itu muncul ketika orang tua lebih memilih akademis daripada keadaan karakter anak, minim karakter inilah  yang menyebabkan anak hanya pintar dalam mengarungi nilai dan IPK tinggi daripada akhlak. Yang baik adalah kedua-duanya bisa dikuasi semaksimal mungkin, karena Mu’adz bin Jabal telah mengungkapkan bahwa “Belajarlah! Memelajari sesuatu ilmu karena Allah itu cerminan ketaatan. Mencarinya adalah jihad. Mengkajinya adalah tasbih. Mengajarkannya adalah sedekah, dan membelanjakannya adalah taqarrub. Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat menyepi.” Sesuai dengan ungkapan ini, bisa diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah tempat pembentukan karakter yang tepat dan lingkungan luar adalah pendukungnya. Terkadang lingkungan luar belum tentu sejalan dengan apa yang telah ditanamkan di dalam keluarga, akan tetapi dengan penjagaan yang tidak memberatkan gerak anak akan bisa dijadikan sebagai filter yang pas untuk pembentukan karakter. Karena ia sudah memiliki benteng karakter baik.

Tahun 2018 telah begitu banyak tren sejalan dengan perkembangan zaman. Anak yang suka bermain petak umpet dan berlari-lari di halaman rumah sekarang berkurang, Beralih pada gadget. Mereka lebih memilih main game daripada berlarian menatap dunia dengan senang. Di sinilah peran pihak keluarga untuk memantau anak, jika memang anak ingin memiliki gadget, isilah dengan sesuatu yang bermanfaat, seperti aplikasi Al-Qur’an. Dengan diisinya aplikasi tersebut, maka anak-anak sering membuka gadget dan orang tua akan menyuruh untuk membaca Al-Qur’an darinya, atau malah anak menghafal Al-Qur’an melalui gadget supaya menghilangkan rasa “ingin” ketika teman-temannya membawa ke mana-mana benda kotak tersebut.

Sayangnya, diawal tahun 2018 ditemukan banyak sekali kasus yang menciptakan banyak korban. Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan bahwa  tren kasus kekerasan seksual khususnya terhadap anak menunjukkan peningkatan, sebenarnya tidak hanya anak perempuan yang menjadi korban, akan tetapi anak laki-laki pun menjadi sasaran para pedofil dengan nafsu yang menyimpang. Seperti kasus yang terjadi di Tangerang yang dilakukan oleh WS alias Babeh, korban mulanya hanya berjumlah 25 anak, menjadi 41 anak, dengan kisaran usia 10 hingga 15 tahun, berita ini disinyalir dari Tribunnews.com, pada Sabtu, 6 Januari 2018. Penyebab dari kasus ini adalah rasa kesepian karena ditinggal seorang istri, dan masa kecilnya yang juga menjadi korban pencabulan ketika berusia belasan tahun. Dari yang telah diungkapkan maka sebenarnya pelaku pedofil sendiri awalnya adalah anak polos yang karakternya terbentuk melalui lingkungan sekitar, bisa jadi karena dahulu orang tuanya tidak begitu memerhatikan apa yang menjadi tontonan anak-anaknya dan malah sibuk mencari harta. Sebenarnya semua hal memang memerlukan uang, tapi anak yang berkarakter apik adalah harta paling berharga di dunia.

Sebenarnya ada cara agar anak menjadi sosok yang bisa membanggakan, yakni dimulai dari diri sendiri. Karena dengan komitmen yang kuat, melahirkan pribadi berkarakter kuat pula. Berikut adalah kiat pembentukan karakter yang bisa dibilang tren zaman now:

  1. Mengaji Dahulu Daripada Menghitung Gaji

Maksud dari menghitung gaji adalah tuntutan orang tua zaman sekarang yang mementingkan kepintaran daripada kearifan. Jadi dengan adanya kepintaran akademis, mereka berharap ketika besar bisa mencari pekerjaan dengan gaji tinggi. Ternyata ini tidak menjamin apapun barang secuil. Jadi ketika ada seorang anak yang pintar menghitung, pintar ini pintar itu, tetapi huruf alif saja tidak mengenal, maka belum bisa dikatakan anak yang pintar. Karena dengan huruf alif pun seorang anak bisa dibawa ke gerbang pementasan kebobrokan moral zaman sekarang.

Jika ini terjadi maka pihak terdekat memiliki kewajiban untuk meluruskan yang bengkok, membenarkan yang rusak, dan mengasihi yang tersakiti, bukan malah saling menyalahkan. Maka bisa dibilang kesampingkan menghitung gaji agar anak pintar mengaji dan mengkaji, dengan begitu akan terbentuk jiwa-jiwa profesional yang mumpuni. Layaknya ungkapan dari seorang Margaret Mead, “Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara berpikir bukan apa yang harus dipikir.” Ajarkanlah cara berpikir positif dengan kebiasaan yang membekaskan manfaat. Di dalam surat Al-Isra’ ayat 9, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

Al-Qur’an adalah bacaan yang tidak akan ketinggalan zaman sampai hari hisab kelak tidak akan mengenal yang namanya ‘ketinggalan zaman’, jadi dengan mengaji, membaca arti, asbabun nuzul, dan tafsir pemikiran seseorang akan berkembang dengan bantuan Allah.

Pembelajaran Al-Qur’an adalah pembelajaran yang paling tren sampai kapan pun, karena di dalam Al-Qur’an menjelaskan tentang kejadian sesuatu yang belum datang masanya. Sekarang juga sudah modern dengan adanya aplikasi Al-Qur’an seseorang akan bisa membaca Al-Qur’an di mana pun.

1. Dampingi Anak Ketika Melihat Tontonan

Sudah dijelaskan jika sayat-sayat pergaulan itu benar adanya. Apa yang mereka lihat gampang sekali ditiru, bahkan jika hal tersebut adalah hal yang tidak baik dan tidak ada efek jera, maka yang awalnya berupa tiruan amatir, lalu naksir, akhirnya mahir.

Tuntun mereka, berikan contoh tontonan yang bermanfaat. Meski film kartun sekalipun bisa mengandung efek negatif di zaman sekarang. Kartun Shinchan saja di negaranya tayang pada tengah malam, karena di dalamnya ada konteks yang tidak baik, sedangkan di Indonesia ditayangkan pada pagi hari, karena menurut mereka segala kartun untuk anak-anak. Begitulah bahayanya di zaman digital seperti ini. Budaya luar gampang masuk karena anak tidak mau ketinggalan tren. Dengan adanya tren sebagai lambang kekinin ini, orang terdekat wajib memberikan filter, nasehat-nasehat dan kalau bisa menegur jika yang ia lakukan itu di luar dari kendali.

2. Filter Pergaulan Anak

Ingatkan kepada mereka bagaimana mencari teman, dan kriteria teman bagaimana yang bagus untuk perkembangan mereka. Pola pikir “ikut-ikut teman” telah merajalela sejak dahulu. Dengan mengikuti teman, mereka merasa telah memiliki kuasa atas pertemanan tersebut, jadi mereka tenang karena memiliki teman.

Teman yang baik adalah teman yang mampu menunjukkan kebaikan kepada mereka. Ajarkan bagaimana bersikap kepada teman yang baik sekalipun pernah disakiti. Misalnya dengan menerapkan membaca kisah-kisah 25 Nabi, kisah-kisah terdahulu, dan bacaan anak semacam dongeng, legenda, yang memberikan efek sadar.

3. Membiasakan Anak Untuk Belajar

Seperti di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, tholabul ‘ilmi faridotun ‘ala muslimin wa muslimatin, yang artinya menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim laki-laki dan perempuan. Kala anak telah neniliki akhlak yang baik, maka dianjurkan untuk mengajarkannya ilmu. Baik yang berorientasi dunia seperti Matematika, biologi, Fisika, sampai yang pelajaran agama. Kesemuannya harus diniatkan menuntut ilmu untuk mencari ridho Allah SWT.

Telah diketahui bahwa minat baca di Indonesia rendah, Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) mencatat persentase minat baca di Indonesia hanya 0,01 persen, artinya hanya 1 dari 10.000 orang yang memiliki minat baca. Programme Of International Student Assessment (PISA) melakukan studi tentang minat baca terhadap 65 negara pada tahun 2009, dan Indonesia menduduki urutan ke-57 dibawah Thailand yang menduduki urutan ke-50. Maka dari itu minimalnya 10 sampai 15 menit saja, biasakan membaca sebelum anak-anak memulai pelajaran mereka di hari itu. Maka dengan membaca lautan yang dalam pun mampu diarungi, belahan dunia mana pun mampu dikunjungi.

Bagitulah cara yang mungkin dilakukan. Kesemuanya hanya “konsep” belaka, rencana bagus akan tidak berfungsi jika tidak ada aksi. Maka, budayakan hal yang baik, tinggalkan hal yang buruk. Dengan begitu akan terbentuklah karakter sesuai dengan budaya yang dibudayakan setiap saat.

KULIAH LAPANG MAHASISWA TBIO DI IPLT DAN TPA

Pada hari Sabtu (21/04/2018), seluruh mahasiswa jurusan Tadris Biologi FTIK-IAIN Tulungagung semester VI yang didampingi oleh bapak/ibu dosen melaksanakan kuliah lapangan di Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, Perumahan dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung di desa Moyoketen dan di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Sampah Dinas Lingkungan Hidup di desa Segawe. Kuliah Lapang ini merupakan implementasi dari beberapa mata kuliah lingkungan yaitu Manajemen Lingkungan, Pencemaran Lingkungan, Teknologi Pengelolaan Lingkungan, AMDAL dan Mikrobiologi. Melalui kuliah lapangan, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana implementasi teori yang mereka peroleh di bangku perkuliahan.

Acara dimulai pukul 08.00 di IPLT Moyoketen. Acara dibuka oleh Kajur TBIO, Eni Setyowati, kemudian dilanjutkan pemaparan materi oleh Bapak Edi Nur Cahyono, sebagai Kasi Persampahan Dinas PU Kabupaten Tulungagung. Setelah acara pemaparan materi dan tanya jawab, dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke tempat pengolahan limbah tinja. Acara di IPLT berakhir pada pukul 09.30 WIB.

vandel  dosen

 mahasiswa

mahasiswa 2  kunjungan iplt

Setelah di IPLT, seluruh mahasiswa dan bapak/ibu dosen melanjutkan perjalanan ke TPA Segawe. Pada pukul 10.00 WIB sampailah di TPA Segawe dan disambut oleh Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah, Dinas Lingkungan Hidup Tulungagung, Bapak Agus. Kegiatan di TPA dimulai dengan kunjungan ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sampah, kemudian ke tempat penangkapan gas methan serta ke tempat pembuatan kompos. Didampingi oleh pak Saeroji, pak Doni, dan pak Suroso dari DInas Lingkungan Hidup, mahasiswa mendapatkan pemaparan materi yang sangat bermanfaat, sebagai aplikasi dari teori yang didapatkan selama perkuliahan.

tpa 1  methan

 lindi

kompos  vandel tpa

Perlu diketahui bahwa, volume sampah di Tulungagung yang masuk ke TPA Segawe telah mencapai 80 hingga 100 ton per hari. Volume sampah ini meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kurangnya pengetahuan warga tentang cara mengelola sampah. Dari total sampah yang diangkut ke TPA, sampah plastik menyumbang sekitar 30 sampai 40 persen. DI TPA Segawe sendiri terdapat kurang lebih 35 warga pemilah sampah, yang berasal dari daerah sekitar TPA.

Meskipun dikelilingi oleh sampah, serta bau yang sangat menyengat, namun mahasiswa sangat bersemangat untuk mengetahui bagaimana pengelolaan sampah di TPA. Kegiatanpun berakhir pada pukul 12.00 WIB, yaitu diskusi dan penutupan yang bertempat di ruang pertemuan para pemilah sampah. Semoga kegiatan ini dapat menambah wawasan bagi mahasiswa tentang pengolahan limbah, yang selama ini hanya mereka dapatkan secara teoritis. Aamiin. Salam lestari…Salam konservasi… (Adm/TBIO)

“HERBARIUM BASAH” HASIL KARYA MAHASISWA TBIO

Hasil KKL Balekambang

Sebagai salah satu tugas mata kuliah di jurusan TBIO adalah membuat Herbarium. Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah. Adapun kegunaan herbarium sangat penting untuk kepentingan penelitian dan identifikasi. Hal ini dikarenakan pendokumentasian tanaman dengan cara diawetkan dapat bertahan lebih lama. Beberapa kegunaan herbarium antara lain: (1) sebagai material peraga matakuliah/pelajaran botani, (2) material penelitian, (3) alat pembantu identifikasi, (4) meteri pertukaran antar herbarium di seluruh dunia, (5) bukti keanekaragaman, dan (6) spesimen acuan untuk publikasi spesies baru.

Herbarium dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu herbarium basah dan herbarium kering. Herbarium basah merupakan awetan dari suatu hasil eksplorasi yang sudah diidentifikasi dan ditanam bukan lagi di habitat aslinya. Spesimen tumbuhan yang telah diawetkan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari komponen macam zat dengan komposisi yang berbeda-beda. Sedangkan herbarium kering adalah awetan yang dibuat dengan cara pengeringab, namun tetap terlihat sebagai ciri-ciri morfologinya sehingga masih bisa diamati dan dijadikan pembanding pada saat determinasi selanjutnya.

Foto di atas adalah herbarium basah hasil karya mahasiswa semester IV jurusan TBIO. Bahan yang dibuat untuk herbarium adalah makroalga yang ditemukan di tepi pantai Balekambang Malang. Salam lestari, salam konservasi. (Adm/TBIO)