Home » MAHASISWA » EKSISTENSI IPUSNAS MENDONGKRAK LITERASI PENDIDIKAN DI INDONESIA

EKSISTENSI IPUSNAS MENDONGKRAK LITERASI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh

Beta Larasati 

Eka Suciati Pratiwi

M. Wildana Fikria Z

(Finalis Lomba Debat dengan Tema “Peningkatan Mutu Pendidikan Indonesia Untuk Mengatasi Degradasi Moral di Era Distrubsi” di Universitas Negeri Semarang)

I. PENDAHULUAN

Perkembangan dunia perpustakaan saat ini tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi informasi sebagai sarana pendukung perkembangan perpustakaan. Penggunaan teknologi informasi di perpustakaan bertujuan untuk memberikan kemudahan akses dan meningkatkan efisiensi pekerjaan serta kualitas pelayanan pada pengguna. Perpustakaan sebagai pusat informasi semakin dituntut untuk memberikan layanan informasi yang lebih baik dan tepat guna, sehingga dapat menarik perhatian pemustaka dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda seperti anak-anak, pelajar, mahasiswa, dosen, peneliti, dan sebagainya. Begitu juga dengan perpustakaan sekolah, sebagai jantung sekolah, perpustakaan harus bisa dan tetap menunjukkan eksistensinya dalam memenuhi kebutuhan informasi para siswa dan guru di sekolah tersebut.

Salah satu jenis perpustakaan yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam kegiatan pelayanannya adalah jenis perpustakaan digital. Menurut Ismail Fahmi (2004), perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang terdiri dari perangkat hardware dan software, koleksi elektronik, staf pengelola, pengguna, organisasi, mekanisme kerja, serta layanan dengan memanfaatkan berbagai jenis teknologi informasi. Dengan sistem digital ini suatu perpustakaan mempunyai kelebihan dalam menghemat ruangan, akses ganda dalam menggunakan koleksi, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, koleksi dapat berbentuk multimedia dan biaya akan lebih murah. Dengan adanya iPusnas tentu bisa memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia.

Rendahnya minat baca di Indonesia tercermin dari beberapa fakta yang memuat tentang prestasi bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, antara lain; Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel. Kenyataan yang muncul saat ini adalah anak-anak lebih senang mengisi waktu mereka dengan permainan-permainan digital mereka. Banyak juga anak-anak yang tak sadar rela menghabiskan waktu mereka berjam-jam dengan media sosial mereka dibandingkan membaca, sedangkan meluangkan waktu untuk membaca sangat sulit. Pentingnya kemampuan literasi dini dan minat baca bagi seorang anak yang akan membantunya menghadapi dan menjalani pendidikannya di masa yang akan datang.

Artinya perlu ada perhatian lebih pada masalah ini agar kita betul-betul bisa menciptakan generasi yang berkualitas.

 

II. PEMBAHASAN

Perpustakaan digital merupakan salah satu teknologi informasi untuk sarana penyimpanan, mendapatkan, dan menyebarluaskan informasi ilmu pengetahuan melalui format digital. Banyak sekali manfaat dari perpustakaan digital ini dibanding perpustakaan konvensional yaitu; lebih menghemat ruangan, akses ganda (multiple access), tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, biaya untuk dokumen digital lebih murah, koleksinya tidak hanya berbentuk teks atau gambar saja, melainkan multimedia dengan kombinasi teks gambar dan suara.

Ada salah satu terobosan terbaru dari Perpustakaan Nasional yang ditampilkan dalam sebuah aplikasi, sehingga dapat didownload di smartphone, android, maupun iOS, tablet, dan komputer PC. Kita dapat dengan mudah menggunakannya sebagai perpustakaan berjalan. Karena dengan adanya iPusnas, kita dapat lebih mudah menggunakan sebagai pencarian dan peminjaman buku secara online di mana saja kita berada. Selain itu juga, aplikasi ini dilengkapi berbagai fitur sosial media yang dapat menghubungkan pembaca satu dengan pembaca lain, bisa saling memfollow, merekomendasikan buku bagus dan lain sebagainya.

iPusnas selain merupakan aplikasi perpustakaan digital (ePustaka), dia memiliki berbagai kelebihan diantaranya; dilengkapi dengan eReader yang digunakan untuk membaca eBook dan fitur social media. Terdapat katalog online yang dapat digunakan sebagai meminjam buku di dalamnya seperti di perpustakaan biasanya dengan jangka waktu pinjam maksimal tiga hari. Setelah itu akan kembali atau menghilang secara otomatis ke ePustaka iPusnas. Apabila kita belum selesai membacanya, kita dapat memperpanjang waktu peminjaman dengan mengisi form peminjaman kembali. Selain itu, iPusnas juga menyertakan rak buku virtual yang berisikan daftar buku peminjaman pengguna. Oleh karena itu, kita akan tahu mengenai riwayat peminjaman buku yang memudahkan kita untuk meminjam ulang buku. Adanya berbagai fitur koleksi buku, memudahkan pembaca mengakses 20 ribu judul buku. Baik dari genre fiksi, agama, anak, bisnis dan ekonomi, humaniora, pendidikan, teknologi, dan masih banyak lagi lainnya. Dengan adanya itu semua, diharapkan dapat membangun kembali literasi anak bangsa yang mulai luntur.

Pendidikan dan kemampuan literasi adalah dua hal yang sangat penting dalam hidup kita. Kemajuan suatu negara secara langsung tergantung pada tingkat melek huruf di negara tersebut. Orang berpendidikan diharapkan untuk melakukan tugasnya dengan baik.Secara historis, Menurut Prof. Dr. Tarwotjo M.Sc sebagaimana dikutip oleh Asul Wiyanto dalam pengantar bukunya yang berjudul “Terampil Menulis Paragraf”, produk dari aktivitas Literasi berupa tulisan, adalah sebuah warisan intelektual yang tidak akan kita temukan di zaman prasejarah. Dengan kata lain, apabila tidak ada tulisan, sama saja kita berada di zaman prasejarah. Tulisan merupakan bentuk rekaman sejarah yang dapat diwariskan dari generari ke generasi, bahkan hingga berabad-abad lamanya.

Dalam dunia pendidikan khususnya, tulisan mutlak diperlukan. Buku-buku pelajaran maupun buku bacaan yang lainnya merupakan sarana untuk belajar para peserta didik di lembaga-lembaga sekolah mulai tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tanpa tulisan dan membaca, proses transformasi ilmu pengetahuan tidak akan bisa berjalan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tulisan, budaya membaca, serta menulis di kalangan masyarakat. Oleh karenanya, kita harus terus berupaya mendorong serta membimbing para generasi muda termasuk pelajar dan mahasiswa untuk membudayakan kegiatan Literasi.

Merujuk pada hasil survei United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2011, indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih ‘mau’ membaca buku secara serius (tinggi). Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Melihat begitu rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia tentu ini akan berdampak pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia Indonesia yang tahun ini akan menghadapi MEA (Mayarakat Ekonomi Asean) sehingga masyarakat Indonesia akan sangat sulit untuk bisa bersaing dengan masyarakat dari negara lain di Asean. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia biasa kita mulai dari sekolah, yang mana sekolah itu merupakan tempat/lembaga yang dirancang untuk melaksanakan proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa yang tentunya kegiatan itu tidak terlepas dari aktifitas membaca. Maka dari sinilah pentingnya mengembangkan budaya membaca di sekolah.

Selain tingkat kesadaran membaca dan menulis masyarakat Indonesia yang masih rendah, ada pula faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan budaya literasi sulit dikembangkan di Indonesia, salah satunya yaitu masyarakat Indonesia lebih suka melakukan cara-cara yang praktis dan cepat untuk mendapatkan informasi dari pada membaca untuk mendapatkan informasi-informasi terbaru. Menurut data BPS (2006), bahwa masyarakat Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari jumlah total penduduk Indonesia, sedangkan masyarakat yang gemar menonton televisi sebanyak 85,9 persen, dan yang gemar mendengarkan radio 40,3 persen. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung lebih suka mendapatkan informasi dari media elektronik terutama televisi, sehingga penonton hanya sebagai pelaku pasif. Sebab, hanya dengan menonton televisi sambil duduk dengan santai dan tenang serta melihat dan mendengarkan, mereka telah mendapatkan informasi tanpa harus bersusah payah dan menghabiskan waktu untuk membaca sebuah koran atau buku demi mendapatkan informasi tersebut. Keadaan seperti inilah yang nantinya dapat mengkikis budaya literasi di negara kita.

Mengingat mutu pendidikan di Indonesia saat ini khususnya dilihat dari segi literasi masih kurang. Jadi dengan adanya iPusnas secara langsung mampu meningkatkan minat baca disemua kalangan. Khususnya dalam bidang pendidikan dapat lebih baik dari sebelumnya. Dengan berbagai fitur yang menarik para pennguna dapat memperoleh akses informasi terbaru.

 

III. PENUTUP

Keberadaan iPusnas merupakan suatu usaha yang dapat menumbuhkan motivasi belajar peserta didik dalam memperoleh pengetahuan secara teknologi. Kualitas atau mutu pendidikan tidak bisa diperoleh dengan instan. Dalam memperoleh sebuah kualitas pendidikan diperlukan perencanaan yang matang terlebih dahulu. Implementasi program perpustakaan digital terhadap kegiatan belajar mengajar dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam upaya pencapaian tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran yang dirumuskan dengan baik dan benar, selayaknya diupayakan pencapaiannya secara maksimal. Pemaksimalan pencapaian tujuan pengajaran tersebut dapat dilakukan antara lain dengan penyediaan dan pelayanan perpustakaan yang memadai. Dengan adanya pengelolaan perpustakaan digital yang lebih maju akan membantu siswa dalam pengaksesan sumber buku yang dicari dengan mudah, sehingga siswa dapat memenuhi keinginanya dengan cepat dan mudah.

 

IV. DAFTAR RUJUKAN

Ishak. 2008. Pengelolaan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi. Laporan Hasil Penelitian Universitas Sumatera Utara, dimuat dalam Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2 Desember 2008. Fakultas Sastra USU

Sugiharto. 2011. Perpustakaan Digital: Suatu Wacana Mengembangkan Perpustakaan Masa Depan        di               Indonesia.             Diakses     dari     http://www.pdii.lipi.go.id/read/data/2011/09/Sugiharto-PerpustakaanDigital.pdf. Pada tanggal 13 April 2018, Jam 20.30 WIB.

Rubiatul. 2012. Manajemen Perpustakaan Berbasis Digital dalam Upaya Membangun Kualitas Sekolah . Diakses dari https://manajemendigilib.wordpress.com/2012/04/10/manajemenperpustakaan berbasis-digital-dalam-upaya-membangun-kualitas-sekolah/. Pada tanggal 11 April, Jam 21.00 WIB.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>