Home » MAHASISWA » PERGAULAN SEBAGAI CETAKAN KARAKTER ANAK (tulisan ini telah diikutsertakan dalam lomba essay acara harlah PAI)

PERGAULAN SEBAGAI CETAKAN KARAKTER ANAK (tulisan ini telah diikutsertakan dalam lomba essay acara harlah PAI)

Oleh:

Ani Hidayatul Munawaroh

Mahasiswa Jurusan Tadris Biologi, FTIK-IAIN Tulungagung

Anialanza@gmail.com

Abstrak

Tragedi yang terjadi di sektar ini tidak bisa dilepaskan dari pergaulan. Jika pergaulan baik maka jiwa yang terbentuk di dalamnya akan baik pula, dan sebaliknya. Maka pembentukan karakter melalui pergaulan sangat disarankan, dilihat dari sisi kedekatan fisik mereka ada di mana. Selayaknya bau parfum yang harum akan menyebar ke ruangan, begitu juga dengan pergaulan, ibarat parfum yang mampu menghipnotis orang yang ada di dalamnya, entah itu harum ataupun berbau busuk. Karena sejati pergaulan akan menular, itulah yang bisa dinamakan “Sayat-Sayat Pergaulan”. Sangat dianjurkan lingkungan yang islami menjadi tonggak awal si anak dalam menatap dunia luar. Jiwanya akan lebih tertata dan pengetahuannya akan lebih terasah kembali. Tidak hanya itu, dengan membudayakan anak sering membaca, dan berkreatifitas juga membantu untuk tidak terjerumus ke pergaulan tidak sehat.

Kata kunci: Pergaulan, karakter, anak

Pioner-pioner hebat sekarang adalah anak kecil polos di masanya. Bahkan orang-orang yang berada di jeruji besi sekarang ini juga pernah melalui masa polos dengan penuh tanda tanya dalam hidupnya. “Pendidikan adalah tiket ke masa depan, hari esok dimiliki oleh orang-orang yang memersiapkan dirinya sejak hari ini,” begitulah kalimat yang telah diucapkan oleh Malcom X. Maksud dari ‘sejak hari ini’ adalah sejak dini, alias waktu kecil. Anak-anak adalah peniru yang baik, maka apa yang mereka lihat, dengarkan, dan rasakan bisa dengan mudah ditiru bahkan jika itu berlangsung mengakibatkan “kebiasaan”. Itulah yang disebut sebagai “Sayat-sayat pergaulan” di mana pergaulan memimpin di depan dalam pembentukan karakter anak sejak ia masih kecil. Lebih baik orang terdekat mengetahui apa yang dilihat anak, apa yang disukai anak, dan apa yang menjadi tren sekarang supaya apa yang dijadikan materi nasehat kepada anak bisa membekas.

Teladan yang baik adalah teladan yang bisa membentuk karakter yang baik pula. Lebih baik lagi jika teladan itu muncul di mana ia berada, jadi ketika anak tersebut sudah mampu pergi menatap dunia, ia akan mudah untuk memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Penanaman akhlakul karimah adalah tangga utama untuk pembentukan generasi yang berkualitas tinggi dibanding mengajarkan mereka hitung-hitungan. Pengelolaan angka semacam ini seharusnya dinomorduakan agar anak mengerti dahulu bagaimana bersikap dan berperilaku yang baik, baik untuk dirinya maupun orang di sekitarnya, sehingga bisa menjadikan ia sebagai seseorang yang bermanfaat. Penanaman ini bisa dimulai dengan pembiasaan dini tentang belajar agama, mengaji, dan dinasehati. Terkadang ironi itu muncul ketika orang tua lebih memilih akademis daripada keadaan karakter anak, minim karakter inilah  yang menyebabkan anak hanya pintar dalam mengarungi nilai dan IPK tinggi daripada akhlak. Yang baik adalah kedua-duanya bisa dikuasi semaksimal mungkin, karena Mu’adz bin Jabal telah mengungkapkan bahwa “Belajarlah! Memelajari sesuatu ilmu karena Allah itu cerminan ketaatan. Mencarinya adalah jihad. Mengkajinya adalah tasbih. Mengajarkannya adalah sedekah, dan membelanjakannya adalah taqarrub. Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman karib saat menyepi.” Sesuai dengan ungkapan ini, bisa diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah tempat pembentukan karakter yang tepat dan lingkungan luar adalah pendukungnya. Terkadang lingkungan luar belum tentu sejalan dengan apa yang telah ditanamkan di dalam keluarga, akan tetapi dengan penjagaan yang tidak memberatkan gerak anak akan bisa dijadikan sebagai filter yang pas untuk pembentukan karakter. Karena ia sudah memiliki benteng karakter baik.

Tahun 2018 telah begitu banyak tren sejalan dengan perkembangan zaman. Anak yang suka bermain petak umpet dan berlari-lari di halaman rumah sekarang berkurang, Beralih pada gadget. Mereka lebih memilih main game daripada berlarian menatap dunia dengan senang. Di sinilah peran pihak keluarga untuk memantau anak, jika memang anak ingin memiliki gadget, isilah dengan sesuatu yang bermanfaat, seperti aplikasi Al-Qur’an. Dengan diisinya aplikasi tersebut, maka anak-anak sering membuka gadget dan orang tua akan menyuruh untuk membaca Al-Qur’an darinya, atau malah anak menghafal Al-Qur’an melalui gadget supaya menghilangkan rasa “ingin” ketika teman-temannya membawa ke mana-mana benda kotak tersebut.

Sayangnya, diawal tahun 2018 ditemukan banyak sekali kasus yang menciptakan banyak korban. Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menyatakan bahwa  tren kasus kekerasan seksual khususnya terhadap anak menunjukkan peningkatan, sebenarnya tidak hanya anak perempuan yang menjadi korban, akan tetapi anak laki-laki pun menjadi sasaran para pedofil dengan nafsu yang menyimpang. Seperti kasus yang terjadi di Tangerang yang dilakukan oleh WS alias Babeh, korban mulanya hanya berjumlah 25 anak, menjadi 41 anak, dengan kisaran usia 10 hingga 15 tahun, berita ini disinyalir dari Tribunnews.com, pada Sabtu, 6 Januari 2018. Penyebab dari kasus ini adalah rasa kesepian karena ditinggal seorang istri, dan masa kecilnya yang juga menjadi korban pencabulan ketika berusia belasan tahun. Dari yang telah diungkapkan maka sebenarnya pelaku pedofil sendiri awalnya adalah anak polos yang karakternya terbentuk melalui lingkungan sekitar, bisa jadi karena dahulu orang tuanya tidak begitu memerhatikan apa yang menjadi tontonan anak-anaknya dan malah sibuk mencari harta. Sebenarnya semua hal memang memerlukan uang, tapi anak yang berkarakter apik adalah harta paling berharga di dunia.

Sebenarnya ada cara agar anak menjadi sosok yang bisa membanggakan, yakni dimulai dari diri sendiri. Karena dengan komitmen yang kuat, melahirkan pribadi berkarakter kuat pula. Berikut adalah kiat pembentukan karakter yang bisa dibilang tren zaman now:

  1. Mengaji Dahulu Daripada Menghitung Gaji

Maksud dari menghitung gaji adalah tuntutan orang tua zaman sekarang yang mementingkan kepintaran daripada kearifan. Jadi dengan adanya kepintaran akademis, mereka berharap ketika besar bisa mencari pekerjaan dengan gaji tinggi. Ternyata ini tidak menjamin apapun barang secuil. Jadi ketika ada seorang anak yang pintar menghitung, pintar ini pintar itu, tetapi huruf alif saja tidak mengenal, maka belum bisa dikatakan anak yang pintar. Karena dengan huruf alif pun seorang anak bisa dibawa ke gerbang pementasan kebobrokan moral zaman sekarang.

Jika ini terjadi maka pihak terdekat memiliki kewajiban untuk meluruskan yang bengkok, membenarkan yang rusak, dan mengasihi yang tersakiti, bukan malah saling menyalahkan. Maka bisa dibilang kesampingkan menghitung gaji agar anak pintar mengaji dan mengkaji, dengan begitu akan terbentuk jiwa-jiwa profesional yang mumpuni. Layaknya ungkapan dari seorang Margaret Mead, “Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara berpikir bukan apa yang harus dipikir.” Ajarkanlah cara berpikir positif dengan kebiasaan yang membekaskan manfaat. Di dalam surat Al-Isra’ ayat 9, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

Al-Qur’an adalah bacaan yang tidak akan ketinggalan zaman sampai hari hisab kelak tidak akan mengenal yang namanya ‘ketinggalan zaman’, jadi dengan mengaji, membaca arti, asbabun nuzul, dan tafsir pemikiran seseorang akan berkembang dengan bantuan Allah.

Pembelajaran Al-Qur’an adalah pembelajaran yang paling tren sampai kapan pun, karena di dalam Al-Qur’an menjelaskan tentang kejadian sesuatu yang belum datang masanya. Sekarang juga sudah modern dengan adanya aplikasi Al-Qur’an seseorang akan bisa membaca Al-Qur’an di mana pun.

1. Dampingi Anak Ketika Melihat Tontonan

Sudah dijelaskan jika sayat-sayat pergaulan itu benar adanya. Apa yang mereka lihat gampang sekali ditiru, bahkan jika hal tersebut adalah hal yang tidak baik dan tidak ada efek jera, maka yang awalnya berupa tiruan amatir, lalu naksir, akhirnya mahir.

Tuntun mereka, berikan contoh tontonan yang bermanfaat. Meski film kartun sekalipun bisa mengandung efek negatif di zaman sekarang. Kartun Shinchan saja di negaranya tayang pada tengah malam, karena di dalamnya ada konteks yang tidak baik, sedangkan di Indonesia ditayangkan pada pagi hari, karena menurut mereka segala kartun untuk anak-anak. Begitulah bahayanya di zaman digital seperti ini. Budaya luar gampang masuk karena anak tidak mau ketinggalan tren. Dengan adanya tren sebagai lambang kekinin ini, orang terdekat wajib memberikan filter, nasehat-nasehat dan kalau bisa menegur jika yang ia lakukan itu di luar dari kendali.

2. Filter Pergaulan Anak

Ingatkan kepada mereka bagaimana mencari teman, dan kriteria teman bagaimana yang bagus untuk perkembangan mereka. Pola pikir “ikut-ikut teman” telah merajalela sejak dahulu. Dengan mengikuti teman, mereka merasa telah memiliki kuasa atas pertemanan tersebut, jadi mereka tenang karena memiliki teman.

Teman yang baik adalah teman yang mampu menunjukkan kebaikan kepada mereka. Ajarkan bagaimana bersikap kepada teman yang baik sekalipun pernah disakiti. Misalnya dengan menerapkan membaca kisah-kisah 25 Nabi, kisah-kisah terdahulu, dan bacaan anak semacam dongeng, legenda, yang memberikan efek sadar.

3. Membiasakan Anak Untuk Belajar

Seperti di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, tholabul ‘ilmi faridotun ‘ala muslimin wa muslimatin, yang artinya menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim laki-laki dan perempuan. Kala anak telah neniliki akhlak yang baik, maka dianjurkan untuk mengajarkannya ilmu. Baik yang berorientasi dunia seperti Matematika, biologi, Fisika, sampai yang pelajaran agama. Kesemuannya harus diniatkan menuntut ilmu untuk mencari ridho Allah SWT.

Telah diketahui bahwa minat baca di Indonesia rendah, Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) mencatat persentase minat baca di Indonesia hanya 0,01 persen, artinya hanya 1 dari 10.000 orang yang memiliki minat baca. Programme Of International Student Assessment (PISA) melakukan studi tentang minat baca terhadap 65 negara pada tahun 2009, dan Indonesia menduduki urutan ke-57 dibawah Thailand yang menduduki urutan ke-50. Maka dari itu minimalnya 10 sampai 15 menit saja, biasakan membaca sebelum anak-anak memulai pelajaran mereka di hari itu. Maka dengan membaca lautan yang dalam pun mampu diarungi, belahan dunia mana pun mampu dikunjungi.

Bagitulah cara yang mungkin dilakukan. Kesemuanya hanya “konsep” belaka, rencana bagus akan tidak berfungsi jika tidak ada aksi. Maka, budayakan hal yang baik, tinggalkan hal yang buruk. Dengan begitu akan terbentuklah karakter sesuai dengan budaya yang dibudayakan setiap saat.


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>